Rita Mardiyana dan Mimpi Menghidupkan Angkot Pariwisata
Rita Mardiyana (sebelah kanan) bersama rombongan Majelis Taklim MI Baburrahmah Cempaka menggunakan angkot saat memasuki kawasan wisata di Martapura. (Foto - Dok Rita).
Ketika Reli Wisata Menjadi Jalan Pemberdayaan Sopir Angkutan Kota
Di tengah semakin berkurangnya minat masyarakat menggunakan angkutan kota (angkot), seorang penggiat pariwisata Kalimantan Selatan, Rita Mardiyana, justru melihat peluang yang berbeda.
Bagi dirinya, angkot bukan sekadar alat transportasi, melainkan bagian dari denyut kehidupan masyarakat yang perlu dipertahankan.
Dari pemikiran sederhana itulah lahir gagasan menghadirkan wisatawan dalam sebuah kegiatan reli wisata yang melibatkan puluhan sopir angkot sebagai mitra utama perjalanan.
Saat banyak orang berbicara tentang pengembangan pariwisata melalui hotel mewah atau destinasi baru, perempuan yang akrab disapa teman-temannya sebagai Hj Rita memilih memulai dari sesuatu yang lebih dekat dengan masyarakat kecil.
Perempuan yang juga Tour Leader Pariwisata berlisensi nasional ini ingin memastikan geliat pariwisata juga memberikan manfaat langsung kepada mereka yang selama ini menggantungkan hidup di balik kemudi angkot.
“Pariwisata harus memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat. Sopir angkot juga bagian dari masyarakat yang perlu diberdayakan.Kami memulai dari wisata religi di Martapura,” ujarnya.
Dalam kegiatan reli wisata religi tersebut, para peserta diajak menjelajahi berbagai destinasi menarik di Kalimantan Selatan menggunakan angkot yang telah dihias dan disiapkan secara khusus.
Bagi wisatawan, pengalaman itu menjadi sesuatu yang unik dan berbeda. Namun bagi para sopir, kegiatan tersebut menghadirkan harapan baru.
Mereka tidak hanya mendapatkan tambahan penghasilan, tetapi juga kesempatan menjadi bagian dari industri pariwisata yang selama ini mungkin terasa jauh dari kehidupan sehari-hari mereka.
Banyak sopir yang mengaku bangga ketika kendaraan yang biasa digunakan mengantar penumpang harian berubah menjadi kendaraan wisata yang membawa tamu dari berbagai daerah.
Di balik senyum para sopir, Hj Rita melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar sebuah perjalanan wisata.
Rita melihat peluang pemberdayaan. Dan dirinya melihat bagaimana pariwisata bisa menjadi jembatan yang menghubungkan kebutuhan wisatawan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat lokal.
Menurutnya, konsep wisata berbasis masyarakat harus terus diperkuat agar manfaat sektor pariwisata tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha besar, tetapi juga masyarakat kecil yang menjadi bagian dari ekosistem pariwisata.
Melalui program-program kreatif seperti reli wisata menggunakan angkot, Hj Rita berharap muncul kesadaran bahwa setiap elemen masyarakat memiliki peran dalam membangun pariwisata daerah.
“Pariwisata bukan hanya tentang destinasi yang indah. Pariwisata juga tentang manusia yang ada di dalamnya,Insya Allah kami juga akan mendorong angkot di Batola untuk kegiatan wisata religi,” katanya sambil mempersilakan tim Economic Travelling mencicipi teh panas dan kudapan Patah asli Martapura.
Semangat itulah yang terus ia perjuangkan. Bahwa di balik sebuah angkot yang melaju di jalanan kota, tersimpan harapan seorang sopir untuk menghidupi keluarganya. Dan melalui pariwisata, harapan itu bisa tumbuh menjadi peluang yang lebih besar.
Kisah Rita Mardiyana menjadi bukti bahwa membangun pariwisata tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Terkadang perubahan lahir dari kepedulian terhadap masyarakat kecil yang selama ini luput dari perhatian.
Nantinya jika berjalan baik, keberhasilan pariwisata bukan hanya diukur dari jumlah wisatawan yang datang, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat yang menyambut mereka.
Dan Rita Mardiyana menghadirkan wisatawan melalui reli angkot bukan sekadar perjalanan wisata. Ini adalah perjalanan untuk memberdayakan, menghidupkan harapan, dan memastikan bahwa roda ekonomi masyarakat terus berputar bersama berkembangnya pariwisata Kalimantan Selatan.(Olpah Sari).
