Babolang, Jejak Mahkota Kehormatan Haji Banjar
Jemaah haji Banjarmasin, Haji Muhammad Arpan sekeluarga yang tetap memegang teguh tradisi mengenakan busana Babolang saat pulang haji. (Foto - Olpah Sari).
Di tengah haru dan sukacita kepulangan jemaah haji Kalimantan Selatan, ada satu tradisi khas Banjar yang kembali mencuri perhatian masyarakat.
Tradisi itu bernama Babolang atau Babulang, sebuah penutup kepala khas perempuan Banjar yang dikenakan oleh mereka yang telah menyandang gelar Hajjah dan Haji.
Bagi sebagian generasi muda, Babolang mungkin hanya terlihat sebagai aksesori adat yang unik.
Namun di balik bentuknya yang menyerupai sanggul oval berhias sulaman emas, payet, dan manik-manik khas Banjar, tersimpan sejarah panjang tentang penghormatan, religiusitas, dan identitas budaya masyarakat Banjar.
Pemerhati budaya Banjar, Abdul Munir, mengatakan Babolang merupakan simbol budaya yang lahir dari perjalanan spiritual masyarakat Banjar dalam memaknai ibadah haji.
Menurutnya, tradisi tersebut tidak bisa dipisahkan dari sejarah panjang keberangkatan haji masyarakat Kalimantan Selatan pada masa lalu.
“Dulu perjalanan menuju Tanah Suci sangat berat. Calon haji harus menempuh perjalanan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun menggunakan kapal laut. Tidak sedikit yang wafat di perjalanan atau tidak pernah kembali. Karena itu, ketika seseorang pulang dengan selamat setelah menunaikan ibadah haji, masyarakat memberikan penghormatan yang sangat tinggi,” ujarnya.

Abdul Munir menjelaskan, penghormatan tersebut kemudian diwujudkan melalui berbagai simbol budaya. Untuk laki-laki dikenal dengan kopiah atau atribut khas haji, sedangkan bagi perempuan muncul tradisi mengenakan Babolang.
“Babolang bukan sekadar penutup kepala. Hal ini menjadi penanda bahwa seorang perempuan telah menunaikan rukun Islam kelima dan memperoleh kehormatan sosial dalam masyarakat Banjar,” katanya.
Simbol Syukur dan Kehormatan
Bentuk Babolang yang khas menjadi identitas yang mudah dikenali. Dalam masyarakat Banjar tempo dulu, seorang perempuan yang mengenakan Babolang langsung diketahui sebagai seorang Hajjah.
Salah satu jemaah haji asal Banjarmasin yang tetap memegang tradisi haji Banjar, Haji Muhammad Arpan, menilai Babolang memiliki makna yang jauh lebih dalam dibandingkan sekadar simbol status sosial.
“Babolang adalah ungkapan rasa syukur. Setelah perjalanan panjang dan penuh risiko menuju Baitullah, masyarakat Banjar menyambut kepulangan hajjah dengan penghormatan yang istimewa,” ujarnya.
Menurut Arpan, penggunaan Babolang juga mencerminkan nilai pendidikan sosial dalam masyarakat Banjar.
“Ketika seorang perempuan pulang berhaji, masyarakat berharap ia menjadi teladan dalam kehidupan beragama. Karena itu gelar Hajjah dan atribut yang dikenakan memiliki tanggung jawab moral yang besar,” katanya.
Ia menambahkan, pada masa lalu tidak semua orang mampu menunaikan ibadah haji. Biaya yang mahal menjadikan keberangkatan haji sebagai pencapaian besar dalam kehidupan masyarakat.
“Karena itu Babolang juga menjadi simbol keberhasilan spiritual dan sosial. Namun yang paling penting bukan kemegahan atributnya, melainkan nilai ibadah dan keteladanan yang menyertainya,” ujarnya.

Tradisi Babolang biasanya hadir bersama rangkaian adat penyambutan haji khas Banjar yang hingga kini masih dapat ditemukan di sejumlah daerah.
Mulai dari tradisi Lawang Sakepeng, yaitu gerbang khusus yang dihias untuk menyambut jemaah haji, hingga kebiasaan berjalan di atas hamparan kain putih sebagai simbol kesucian setelah menunaikan ibadah haji.
Di beberapa wilayah juga dikenal tradisi menginjak uang logam yang dimaknai sebagai doa keberkahan dan kesejahteraan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Suasana penyambutan semakin khidmat dengan lantunan shalawat, tabuhan tarbang Banjar, serta doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat.
“Semua itu menunjukkan bagaimana masyarakat Banjar memadukan nilai Islam dengan budaya lokal secara harmonis,” kata Abdul Munir.
Mulai Langka di Tengah Modernisasi
Meski masih dikenal luas, penggunaan Babolang kini tidak lagi semarak seperti beberapa dekade lalu.
Modernisasi busana muslim, berkurangnya jumlah pengrajin tradisional, serta perubahan gaya hidup masyarakat menjadi faktor yang menyebabkan tradisi tersebut semakin jarang dijumpai.
Selain itu, meningkatnya jumlah jemaah haji setiap tahun membuat simbol-simbol eksklusif yang dahulu melekat pada status haji perlahan mengalami pergeseran makna.
Namun demikian, baik Abdul Munir maupun Haji Muhammad Arpan sepakat bahwa Babolang tetap memiliki nilai budaya yang sangat penting untuk dilestarikan.
“Babolang adalah bagian dari memori kolektif masyarakat Banjar. Tradisi ini bukan hanya milik para hajjah dah Haji semata, tetapi juga milik sejarah dan identitas budaya Kalimantan Selatan,” ujar Abdul Munir.
Sementara Pengamat media dan sosial, Syahriyanto Ruslan berharap generasi muda dapat mengenal dan memahami makna yang terkandung di balik tradisi tersebut.
“Warisan budaya tidak harus selalu digunakan setiap hari. Yang terpenting adalah masyarakat memahami nilai sejarah, rasa syukur, dan penghormatan yang terkandung di dalamnya,” katanya.
Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak, Babolang tetap berdiri sebagai simbol yang menghubungkan masa lalu dan masa kini.
Menurut Jurnalis Radio Elshinta ini, Babolang menjadi saksi bagaimana masyarakat Banjar memaknai perjalanan suci menuju Baitullah, sekaligus menjaga identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi urang Banjar, Babolang bukan sekadar hiasan kepala. Namun adalah mahkota kehormatan seorang Haji dan Hajjah yang pulang membawa cerita, doa, dan jejak spiritual dari Tanah Suci.(Olpah Sari).
