Dari Tambang ke Kehidupan, Jejak Ecological Green Belt Adaro
Salah satu kawasan void (danau beas tambang) yang jernih dan indah, hingga flora dan fauna yang mulai kembali ke kawasan reklamasi. (Foto - Humas Adaro Indonesia ).
Oleh: Olpah Sari
Jurnalis Economic Travelling.Com
Di banyak tempat, kawasan bekas tambang sering meninggalkan kesan yang sama, bentang tanah terbuka, lereng yang pernah terkoyak alat berat, dan jejak eksploitasi yang sulit dibayangkan dapat kembali pulih.
Tak banyak orang membayangkan bahwa sebuah kawasan bekas tambang dapat kembali menghadirkan suara burung di pagi hari.
Di benak sebagian besar orang, tambang selalu identik dengan lubang besar, debu, alat berat, dan lanskap yang terasa jauh dari kehidupan.
Sesudah batu bara diangkut pergi, biasanya yang tersisa hanyalah cerita tentang apa yang pernah diambil dari bumi.
Namun di sebagian kawasan operasional PT Adaro Indonesia di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, sebuah cerita lain sedang ditulis.
Di sebagian kawasan operasional PT Adaro Indonesia di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, jawaban atas pertanyaan itu perlahan sedang dibangun pelan, bertahap, dan nyaris tanpa gaduh.
Bukan lewat slogan besar. Melainkan melalui sesuatu yang tumbuh diam-diam: pohon, tanah yang mulai hidup kembali, dan satwa yang perlahan menemukan jalannya pulang.

Di kawasan pascatambang ini, Adaro mencoba mengubah cara pandang tentang reklamasi.
Jika selama bertahun-tahun reklamasi identik dengan upaya administratif menutup kembali lahan dan menanam vegetasi agar terlihat hijau.Kini pendekatan itu mulai bergeser menuju sesuatu yang lebih mendasar restorasi ekosistem.
Namanya Ecological Green Belt (EGB), atau sabuk hijau ekologis.
Sebuah konsep yang mungkin terdengar teknis, tetapi sesungguhnya berbicara tentang sesuatu yang sangat sederhana: memberi kesempatan kedua bagi alam untuk kembali hidup.
Ketika Hijau Tidak Lagi Sekadar Pemandangan
Sekilas, kawasan ini tampak seperti hamparan vegetasi biasa.
Pepohonan tumbuh bertingkat. Rumput liar mulai menutup tanah. Burung sesekali terdengar bersahutan. Di beberapa titik, serangga beterbangan di antara tanaman muda. Bahkan sebagian besar satwa endemik Banua, Bekantan pun mulai berdatangan menemukan rumahnya kembali.
Sulit membayangkan bahwa sebagian bentang ini dulunya merupakan wilayah yang sibuk oleh suara mesin tambang. Namun bagi tim lingkungan, hijau di kawasan ini bukan sekadar soal warna.
Ia adalah indikator. Tanda bahwa tanah mulai bekerja kembali Bahwa air mulai menemukan keseimbangannya. Bahwa ekosistem yang pernah terganggu perlahan sedang merajut dirinya sendiri.
Melalui konsep Ecological Green Belt, kawasan pascatambang tidak hanya ditanami pohon agar terlihat baik di laporan reklamasi.
Pendekatannya jauh lebih kompleks. Lahan ditata ulang. Kontur tanah diperbaiki. Lereng distabilkan. Kualitas tanah dipulihkan. Vegetasi lokal dan tanaman endemik Kalimantan ditanam secara bertahap.
Pemilihannya pun tidak sembarangan. Pohon tidak hanya dipilih karena cepat tumbuh, tetapi karena memiliki fungsi ekologis, memperbaiki tanah, menjaga cadangan air, mengurangi erosi, menyerap karbon, hingga menyediakan ruang hidup bagi satwa liar.
Dengan kata lain, targetnya bukan menciptakan kawasan hijau. Tetapi membangun ulang sistem kehidupan.
Hal itu ditegaskan Rusdi Husin, Health Safety Environment Division Head PT Adaro Indonesia.
Menurutnya, pendekatan reklamasi yang dijalankan perusahaan saat ini memang diarahkan untuk memastikan kawasan pascatambang tetap memiliki fungsi ekologis dalam jangka panjang.
“Tujuannya bukan hanya menghijaukan kembali lahan bekas tambang, tetapi bagaimana kawasan ini mampu kembali menjalankan fungsi alamnya. Karena reklamasi hari ini bukan sekadar menanam pohon, tetapi membangun sistem ekologis yang berkelanjutan,” ujar Rusdi dalam kegiatan Visite Jurnalis 2026 di kawasan pascatambang Adaro Indonesia, Kamis (21/06/2026).

Rusdi menjelaskan, kawasan Ecological Green Belt juga dipantau secara berkala, mulai dari perkembangan vegetasi, kualitas lingkungan, hingga keberadaan flora dan fauna yang mulai kembali muncul.
Bagi perusahaan, keberhasilan reklamasi bukan hanya soal capaian administratif, tetapi tentang apakah alam benar-benar menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Di dunia pertambangan, salah satu dampak paling besar sering kali bukan hanya perubahan lanskap, tetapi terputusnya habitat satwa. Hutan Jalur alami berpindah terganggu. terbelah. Ruang hidup menyempit.
Karena itu, Ecological Green Belt juga dirancang sebagai koridor ekologis,semacam jalur penghubung yang memungkinkan flora dan fauna kembali berkembang secara alami.
Bagi manusia, mungkin kawasan ini hanya terlihat sebagai sabuk hijau. Namun bagi burung, serangga penyerbuk, reptil kecil, atau satwa liar lainnya, ia bisa berarti rumah baru. Atau jalan pulang.
Menurut Djoko Soesilo, Land and Community Management Department Head PT Adaro Indonesia, konsep sabuk hijau ekologis dibangun untuk memastikan kawasan pascatambang tetap produktif, tidak hanya bagi lingkungan tetapi juga masyarakat sekitar.
“Kami ingin kawasan ini tidak berhenti hanya pada penghijauan. Ada aspek konservasi, fungsi ekologis, sampai potensi pemanfaatan jangka panjang yang memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” jelas Djoko.
Ia mengatakan, pendekatan restorasi membutuhkan waktu panjang karena ekosistem tidak dapat dipulihkan secara instan. Oleh sebab itu, perusahaan menerapkan pemantauan rutin dan evaluasi berkelanjutan terhadap kawasan reklamasi.
Di sejumlah area, tanda-tanda kehidupan mulai terlihat. Vegetasi tumbuh lebih stabil. Tanaman liar mulai muncul tanpa ditanam. Burung kembali singgah.
Dalam ilmu lingkungan, kehadiran makhluk hidup sering dianggap sebagai indikator paling jujur dari sebuah pemulihan. Alam tidak pernah berpura-pura. Jika ia kembali hidup, berarti ada sesuatu yang berjalan benar. Dari Reklamasi Menuju Restorasi
Di berbagai negara, pendekatan pascatambang memang mulai berubah. Australia, Kanada, hingga sejumlah negara Eropa tak lagi mengukur keberhasilan reklamasi hanya dari banyaknya pohon yang ditanam, melainkan dari kemampuan kawasan membangun kembali fungsi ekologisnya.
Adaro tampaknya mencoba bergerak ke arah yang sama.
Pemantauan flora dan fauna dilakukan secara berkala. Patroli lingkungan dijalankan. Kondisi tanah dan vegetasi dievaluasi untuk memastikan kawasan reklamasi tidak berhenti pada fase penghijauan awal.
Sebab memulihkan alam bukan pekerjaan satu musim. Ia membutuhkan waktu panjang. Kadang bertahun-tahun. Kadang puluhan tahun. Dan hasilnya pun tidak selalu datang cepat.
