Jogja Istimewa Yang Selalu Dirindu

0
OLPAH LAGI DI MALIOBORO

Mengapa Kota Budaya Ini Tak Pernah Sepi Diserbu Wisatawan?

Oleh: Olpah Sari

Ada satu kota di Indonesia yang namanya selalu terasa hangat ketika disebut.

Seperti lagu lama yang tak pernah bosan diputar, seperti halaman rumah yang selalu ingin disinggahi pulang. Namanya Jogja.

Mendengar kata Jogja, entah mengapa pikiran kita seketika melayang pada jalanan penuh cerita, aroma kopi di sudut angkringan, suara gamelan yang lirih di kejauhan, dan senyum tulus masyarakatnya yang begitu akrab meski baru pertama kali bertemu.

Jogja bukan sekadar kota wisata. Kalau mau jujur ia adalah rasa.

Dan mungkin, itulah alasan mengapa dari tahun ke tahun, kota budaya ini tak pernah kehilangan pesonanya. Selalu ramai diserbu wisatawan nusantara maupun mancanegara, terlebih saat libur akhir pekan, cuti bersama, atau musim libur nasional tiba.

 

Menikmati malam di Yogjakarta tak salah kalah mengunjungo Red Wood salah satu Cafe Resto dengan sentuhan klasik ala Jogja. (Foto – Risanta).

Di musim liburan, denyut Jogja terasa semakin hidup.Setidaknya tanggal merah nasional yang berdekatan dengan akhir pekan.

Kereta dari berbagai kota datang silih berganti di Stasiun Tugu. Bandara dipenuhi wajah-wajah penuh antusias. Jalan menuju Malioboro perlahan dipadati kendaraan. Hotel, homestay, hingga penginapan sederhana hampir penuh dipesan jauh hari sebelumnya.

Namun anehnya, di tengah keramaian itu, Jogja tetap terasa teduh.

Kota yang Menyambut Siapa Saja dengan Tulus

Perjalanan menuju Jogja selalu punya kesan berbeda. Setibanya kaki menginjak tanah ini, ada perasaan seolah sedang pulang ke rumah yang lama dirindukan.

“Selamat datang di Jogja,” seakan bukan hanya ucapan, tetapi sikap hidup masyarakatnya.

Orang Jogja punya cara unik menyambut tamu. Sederhana, tetapi hangat. Penjual gudeg yang menyapa ramah, pengayuh becak yang menawarkan perjalanan tanpa memaksa, hingga warga kampung yang tak segan membantu wisatawan tersesat.

Keramahan inilah yang membuat Jogja terasa begitu humanis.

Budaya Jawa yang lekat dengan unggah-ungguh dan rasa hormat kepada sesama menjadikan kota ini begitu terbuka terhadap siapa pun. Semua diterima dengan istimewa. Tak peduli ras, suku, agama, atau asal daerah.

Jogja seperti rumah besar untuk semua orang.

Tak heran jika banyak pelancong menyebut kota ini ngangenin selalu membuat rindu untuk kembali.Bahkan meskipun kami adalah penggiat pariwisata, namun ketika ke Jogja atmosfir kangennya begitu terasa.

 

Wisatawan Banjarmasin menikmati sarapan pagi di Soto Sapi Pa Musthopa, Kawasan Sleman, Yogyakarta. (Foto – Risanta).

Malioboro Jalan yang Tak Pernah Kehabisan Cerita

Malam di Jogja seolah belum sempurna tanpa berjalan kaki di Malioboro.

Lampu-lampu jalan memantulkan suasana romantis. Musik jalanan mengalun lembut. Aroma wedang ronde bercampur dengan gurihnya sate klathak dan kopi joss di udara malam.

Di sini, waktu berjalan lebih lambat namun memberikan kesan indah nan kuat.

Wisatawan duduk santai di bangku pedestrian, menikmati suasana tanpa terburu-buru. Ada yang tertawa bersama keluarga, ada pasangan muda mengabadikan momen, ada pula pelancong solo yang sekadar menikmati malam sambil menyeruput kopi hangat.

Konon, setiap sudut Jogja memang romantis.

Bahkan, banyak kisah cinta tumbuh di kota ini. Tak sedikit pula yang menjadikan Jogja sebagai tempat mengenang perjalanan hidup.Setidaknya dirasakan mereka menuntut ilmu bertahun-tahun di sana.

Dan puncaknya adalah Film Ada Apa Dengan Cinta 2 pernah memperkuat romantisme itu. Membuat banyak orang percaya, bahwa Jogja memang kota yang pandai menyimpan rasa.

Alam, Budaya, dan Sejarah yang Tak Pernah Membosankan Keistimewaan Jogja bukan hanya pada suasana kotanya. Jogja seperti paket lengkap yang sulit ditolak.

Ingin wisata sejarah? Ada Keraton Yogyakarta yang masih hidup dengan tradisi Jawa yang kental. Ada pula megahnya Candi Prambanan yang berdiri anggun, menyimpan kisah legenda cinta Roro Jonggrang.

Pecinta alam dimanjakan pantai-pantai eksotis seperti Parangtritis, kawasan Gunungkidul dengan pasir putih dan tebing dramatis, hingga perbukitan hijau yang menawarkan matahari terbit nan memesona.

 

Seorang wisatawan asyik bercengkrama dengan satwa di kawasan destinasi Lava Tour Gunung Merapi. (Foto – Risanta).

Wisata petualangan? Lava tour Merapi siap memacu adrenalin.

Sementara anak muda menemukan dunianya lewat deretan kafe estetik, desa wisata kreatif, hingga spot-spot kekinian yang Instagramable.

Jogja seakan selalu berhasil mengikuti zaman, tanpa kehilangan jati dirinya.

Tradisi tetap hidup, modernitas pun berjalan berdampingan. Kuliner Murah yang Membuat Dompet Ikut Bahagia

Salah satu alasan terbesar wisatawan selalu kembali ke Jogja adalah perkara sederhana makanan enak dengan harga bersahabat.

Di kota ini, menikmati sepiring makan lengkap tak harus membuat kantong menangis. Dengan uang sekitar Rp20 ribuan, wisatawan sudah bisa menikmati nasi lengkap dengan lauk dan minuman

Gudeg, sate klathak, bakmi Jawa, oseng mercon, hingga angkringan dengan nasi kucing menjadi pengalaman kuliner yang sulit dilupakan.

Jogja punya kemampuan ajaib membuat liburan terasa panjang tanpa harus menguras tabungan. Pergi dua hingga tiga hari dengan anggaran minim? Sangat mungkin.

Bahkan itulah yang membuat banyak mahasiswa, backpacker, hingga keluarga menjadikan Jogja destinasi favorit lintas generasi.

Jogja punya sesuatu yang sulit dijelaskan yakni kehangatan.

Kehangatan itu terasa dari senyum warganya, dari budaya yang tetap dijaga, dari suara azan bersahut dengan gamelan, dari malam-malam sederhana di angkringan, hingga obrolan ringan dengan orang asing yang mendadak terasa seperti teman lama.

Maka tak mengherankan jika setiap akhir pekan dan musim libur, Jogja selalu sibuk.

Wisatawan datang silih berganti. Ada yang baru pertama kali berkunjung. Ada pula yang kembali untuk kesekian kalinya.

Karena bagi banyak orang, Jogja bukan sekadar destinasi. Jogja adalah tempat pulang bagi rindu. Dan benar adanya satu kalimat yang sering terdengar itu, Jogja untuk kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!