Merawat Indonesia dari Bangku SMP

0
PPWK BAMBANG TERKENAL.

Ketua PPWK Banjarmasin Bambang Budiyanto dalam sebuah acara sosialisasi. (Foto - Risanta).

Ada pemandangan menarik sepanjang Mei 2026 di sejumlah SMP di Kota Banjarmasin.

Di ruang-ruang kelas, aula sekolah, hingga halaman upacara, terdengar kembali cerita tentang Indonesia. Tentang Pancasila. Tentang merah putih. Tentang keberagaman yang sejak lama menjadi wajah bangsa ini.

Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) Banjarmasin memilih bergerak dari sekolah ke sekolah.

Marathon sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan digelar di lima kecamatan. Bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ikhtiar kecil untuk menjaga api nasionalisme tetap menyala di hati generasi muda.

Di era modern, tantangan merawat Indonesia memang tidak lagi selalu datang dalam bentuk penjajahan fisik. Tantangannya kini hadir lewat derasnya arus informasi, budaya luar, hoaks, hingga lunturnya rasa bangga terhadap identitas bangsa sendiri.

 

Sugeng Hadi Santoso salah satu tim PPWK yang memberikan sosialisasi kepada siswa SMP. (Foto – Risanta).

Anak-anak muda hidup di tengah dunia digital yang bergerak sangat cepat. Karena itu, pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan menjadi semakin penting.

PPWK memahami, menanamkan nasionalisme kepada pelajar SMP bukan perkara menghafal sila demi sila. Lebih dari itu, bagaimana nilai-nilai tersebut hidup dalam keseharian mereka.

Menghargai teman yang berbeda suku dan agama, menjaga sopan santun, mencintai budaya daerah, hingga menggunakan media sosial secara bijak tanpa menyebar kebencian.

Ketua PPWK Banjarmasin, Bambang Budiyanto, menyampaikan bahwa merawat Indonesia bisa dimulai dari hal-hal sederhana.

“Mencintai produk dalam negeri, memahami sejarah bangsa, mengikuti upacara bendera dengan khidmat, hingga mengukir prestasi untuk mengharumkan nama Indonesia,” terang Bambang yang pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin di era tahun 2000-an.

 

Tim PPWK saat sosialisasi di SMP Negeri 35 Sungai Andai Banjarmasin. (Foto- Tamjid Noor).
Tim PPWK bersama Kepala Kesbangpol Banjarmasin Ahmad Muzaiyin saat sosialisasi di SMP Negeri 14 Banjarmasin. (Foto – Cindy).

Nasionalisme, pada akhirnya, bukan hanya soal slogan. Namun sesungguhnya ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Pilihan PPWK menyasar siswa SMP juga bukan tanpa alasan. Masa remaja adalah fase penting pembentukan karakter.

Pada usia inilah rasa ingin tahu tumbuh sangat besar. Mereka mulai mencari jati diri, mulai mengenal dunia luar, dan mulai membentuk cara pandang terhadap bangsa dan negaranya.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Banjarmasin, Ahmad Muzaiyin, menilai kegiatan seperti ini menjadi benteng penting bagi generasi muda di tengah arus globalisasi.

“Anak-anak harus dipersiapkan menjadi generasi tangguh yang memahami nilai Pancasila, menjaga persatuan, dan mencintai NKRI,” tegas pria low profile jebolan IPDN ini.

Menuutnya Indonesia tidak hanya diwariskan lewat bangunan, jalan raya, atau gedung-gedung tinggi. Indonesia diwariskan lewat nilai. Lewat karakter. Lewat rasa memiliki terhadap negeri ini.

Di tengah dunia yang terus berubah, mungkin inilah pekerjaan rumah terbesar bangsa: menjaga agar generasi muda tetap mengenal akar identitasnya sendiri.

Dan dari ruang-ruang kelas sederhana di Banjarmasin itu, PPWK sedang menanam benih-benih kecil nasionalisme. Benih yang kelak diharapkan tumbuh menjadi pohon besar bernama cinta tanah air.

Karena merawat Indonesia, sesungguhnya, dimulai dari hati generasi mudanya.(Risanta).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!