Di Balik Keindahan Alam, Ada Risiko yang Sering Diabaikan

0
ABBY 2026

Foto - Dok Economic Travelling.Com.

Oleh: Andi Suka

Kabut turun perlahan di lereng pegunungan. Di antara dingin yang menggigit, langkah-langkah manusia terus menapak, mengejar satu tujuan yakni sebuah puncak.

Kamera siap, tawa mengalir, dan semangat membuncah. Namun, di balik setiap langkah itu, ada satu hal yang kerap luput dari kesadaran alam tidak pernah menjanjikan keselamatan.

Dalam beberapa tahun terakhir, wisata alam menjelma menjadi fenomena massal. Gunung, hutan, dan kawasan geowisata tak lagi sepi.

Ribuan orang datang, bukan hanya untuk menikmati, tetapi untuk mengabadikan.

Foto-foto indah tersebar di media sosial, membangun citra bahwa alam adalah ruang yang ramah, terbuka, dan mudah ditaklukkan.

Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.

Alam itu bukan sekadar lanskap. Ia adalah ruang hidup dengan dinamika yang tak bisa diprediksi. Cuaca dapat berubah drastis dalam hitungan menit. Jalur yang tampak jelas bisa menyesatkan.

Tubuh yang terasa kuat di awal perjalanan dapat runtuh di tengah medan. Dan dalam kondisi tertentu, kesalahan kecil bisa berujung pada kehilangan yang besar.

 

Abby bersama Peserta Sosialisasi bertajuk “Alam Indah Belum Tentu Aman” yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pemandu Wisata Bakti Pertiwi bersama Three S Management .(Foto – Dok Abby).

Maka dalam berbagai ruang diskusi dan pelatihan, kami pribadi selalu menyebut inilah persoalan mendasar muncul, sebua euforia yang tidak diimbangi kompetensi.

Sosialisasi bertajuk “Alam Indah Belum Tentu Aman” yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pemandu Wisata Bakti Pertiwi bersama Three S Management menjadi pengingat keras bahwa di balik tren wisata alam, ada risiko nyata yang terus mengintai.

Kegiatan ini menyasar pemandu wisata, pegiat alam, hingga masyarakat umum kelompok yang selama ini berada di garis depan aktivitas luar ruang.

Di dalam forum tersebut, satu pesan disampaikan berulang, keindahan tidak selalu aman.

Momentum ini kami mengajak peserta memahami bahwa aktivitas di alam bukan sekadar perjalanan, tetapi sebuah sistem yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan.

Teknik navigasi, pertolongan pertama, hingga mitigasi risiko bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan dasar.

Karenanya kami sepakat ketika Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pemandu Wisata Bakti Pertiwi, Abby Travelers Indonesia, menyoroti kecenderungan yang semakin mengkhawatirkan.

“Banyak orang melihat alam hanya dari sisi keindahannya. Mereka lupa bahwa tanpa kompetensi, risiko kecelakaan bisa sangat besar,” ujarnya di sela-sela kegiatan yang mendapat apresiasi berbagai media termasuk TV Diplomat Belanda dan Media Online nasional “Economic Travelling.Com”.

Pernyataan ini mencerminkan realitas di lapangan. Tidak sedikit insiden yang terjadi karena kelalaian sederhana, karena tidak membawa perlengkapan memadai, mengabaikan kondisi cuaca, atau tidak memahami jalur.

Tentu kita berkaca dalam banyak kasus, alam hanya menjadi pemicu. Penyebab utamanya tetap sama adalah ketidaksiapan manusia.

Dewan Pembina Three S Management, Mas Rafael, menegaskan keselamatan tidak bisa hanya dibebankan pada pemandu wisata.

“Setiap orang yang masuk ke alam harus memiliki standar kompetensi dasar. Ini bukan soal profesional atau tidak, tetapi soal keselamatan,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menggarisbawahi satu hal penting, wisata alam tidak bisa lagi diperlakukan sebagai aktivitas bebas tanpa batas.

Dibutuhkan standar, disiplin, dan kesadaran kolektif. Tanpa itu, pertumbuhan sektor ini justru berpotensi membawa konsekuensi yang lebih besar.

Di sisi lain, narasi yang dibangun oleh media dan platform digital juga perlu dikritisi. Keindahan alam dipromosikan tanpa diimbangi edukasi risiko.

Gunung dipotret sebagai destinasi eksotis, bukan medan yang menuntut kesiapan. Akibatnya, banyak orang datang dengan ekspektasi yang salah, mencari pengalaman, tetapi mengabaikan persiapan.

Sejatinya memang alam tidak pernah berkompromi.

 

Foto Ilustrasi Wisatawan Mancanegara menjajal sensasi River Tubing di Loksado dipandu Tour Guide “Bebeh”, Tour Guide yang memiliki kompetensi. (Foto – Dok Bebeh).

Ia tidak menyesuaikan diri dengan manusia. Justru manusialah yang harus menyesuaikan diri dengan alam. Dan dalam proses itu, kompetensi menjadi kunci utama.

Kegiatan sosialisasi seperti ini menjadi langkah awal yang penting. Namun, ia tidak boleh berhenti sebagai agenda sesaat. Dibutuhkan gerakan yang lebih luas melibatkan pemerintah, pelaku industri, komunitas, hingga media untuk membangun budaya keselamatan yang kuat.

Dalam diskusi ringan bersama tokoh media yang juga Ahli Pers Dewan Pers, Muhammad Risanta, kami sepakat keberhasilan wisata alam bukan hanya tentang jumlah pengunjung atau popularitas destinasi.

Namun Ia diukur dari satu hal yang lebih mendasar, berapa banyak orang yang pulang dengan selamat.

Alam akan selalu memanggil. Pesonanya tak pernah pudar.
Namun tanpa kesiapan, setiap langkah menuju keindahan bisa berubah menjadi perjalanan menuju risiko.

Dan di antara euforia dan tragedi, hanya ada satu pembeda, hanya kompetensi.Karena sudah saatnya semua memiliki kompetensi.

Penulis adalah Ketua Harian Asosiasi Pemandu Wisata Bhakti Pertiwi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!