Kita Dalam Kepungan Hedonisme

0
DOSEN MUNIR HAPPY

Foto Ilustrasi - Penulis sedang observasi fenomena hedonisme di sebuah cafe di Banjarbaru. (Foto - Risanta).

Oleh: Abdul Munir

Mengikuti jejak hedonisme sering kali menjadi jalan pintas menuju kemerosotan mutu kebahagiaan.

Hari ini, kebahagiaan seolah dipaketkan dalam bentuk makan-makan di kafe mewah, karaoke, hingga ritual healing dan melancong ke mancanegara yang dipamerkan di media sosial.

Padahal, di balik slogan-slogan indah tentang keluarga bahagia dan sejahtera, ada ancaman nyata yang sedang mengintai fondasi kemanusiaan kita.

Sumber Daya Manusia (SDM) sejatinya ditempa melalui pendidikan dan lingkungan yang sehat. Sebagaimana gagasan Prof. Soemitro Djojohadikusumo, kualitas SDM bukan sekadar angka, melainkan perpaduan antara kualitas akademik, kemampuan teknis, dan keahlian profesional.

Namun, semua itu akan lumpuh jika ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik kita hanya diarahkan untuk memuaskan nafsu konsumtif.

Franz Magnis-Suseno pernah mengingatkan bahwa manusia tidak akan bahagia jika hanya pasif menikmati segala hal. Kebahagiaan sejati muncul saat kita secara aktif merealisasikan bakat dan potensi diri.

Socrates pun menegaskan bahwa kebahagiaan tidak terletak pada tumpukan harta, melainkan pada karya. Ada kepuasan batin yang mencerahkan saat kita mengajar, mendidik, atau menulis, sebuah kondisi yang oleh Erich Fromm disebut sebagai fase being (menjadi diri sendiri), bukan sekadar having (memiliki benda).

Namun, realitas di lapangan sering kali berbicara lain. Hedonisme telah merangsek masuk ke ruang paling privat yakni keluarga. Saya menyaksikan sendiri sebuah kasus nyata, di mana seorang istri yang menikah muda di luar usia ideal 21 tahun yang disarankan BKKBN, terjebak dalam tipu daya kemewahan setelah mencicipi dunia bisnis.

Efeknya fatal egoisme tumbuh, kewajiban rumah tangga ditinggalkan, dan jilbab dilepas demi tuntutan pergaulan semu.

Ketidakharmonisan ini berujung pada perceraian di masa lansia. Sebuah tragedi yang memilukan, karena di saat anak-anak mereka sedang berjuang sebagai “generasi sandwich”, pilar utama rumah tangga justru roboh.

Norma keluarga bahagia pun pudar. Ketahanan keluarga memang membutuhkan dukungan ekonomi, namun tanpa harmoni antara suami, istri, dan anak, delapan fungsi keluarga mustahil bisa dilakoni secara optimal.

Kini, kepungan hedonisme terlihat jelas dari unggahan medsos yang penuh pamer kemewahan. Mirisnya, fenomena ini tidak hanya menjangkiti generasi milenial atau Gen Z, tetapi juga orang-orang dewasa yang hampir lansia.

Rupanya, ancaman bagi kita hari ini bukan hanya penyakit neurologis atau demensia, melainkan wabah hedonisme yang pelan-pelan mengikis kewarasan dan kebahagiaan sejati kita.

*Penulis adalah Budayawan & Dosen STIE Pancasetia

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!