Menanam Pancasila, Menjemput Integritas Muda

0
PPWK PA BAMBANG

Foto Ilustrasi - Penulis bersama sejumlah siswa dalam sebuah kegiatan. (Foto - Dok Risanta),

Oleh: Bambang Budiyanto
Ketua Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) Banjarmasin

Tawuran antar-pelajar, perundungan (bullying) yang kian brutal, hingga hilangnya sekat etika terhadap orang tua dan guru bukan sekadar “kenakalan remaja” biasa.

Ini adalah alarm keras atas pergeseran perilaku generasi muda kita yang kian menjauh dari akar jati diri bangsa. Di tengah gempuran globalisasi dan ruang digital yang tanpa filter, kita menyaksikan fenomena apatisme dan degradasi moral yang mengkhawatirkan. Mengapa ini terjadi?

Jawabannya terletak pada rapuhnya fondasi ideologi di tingkat akar rumput. Pancasila, yang seharusnya menjadi “kompas” kepribadian, seringkali hanya berakhir sebagai hafalan di atas kertas, bukan perilaku di atas meja makan atau di ruang kelas.

 

Para siswa berpose di depan armada Pemadam Kebakaran Astra Agro Lestari.Salah satu menanamkan semangat peduli kepada sesama melalui edukasi gotong royong dan pancasila  (Foto-Humas Astra Agro Lestari).

Tantangan Global dan Krisis Keteladanan

Era disrupsi telah membawa budaya asing masuk tanpa permisi ke ruang privat anak muda kita. Teknologi memang maju, namun seringkali tidak dibarengi dengan kematangan karakter. Akibatnya, nasionalisme meluntur dan nilai kemanusiaan tergerus.

Di sinilah Pancasila harus hadir bukan sebagai doktrin yang kaku, melainkan sebagai nilai hidup (living values) yang mencakup ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial.

Pendidikan moral tidak boleh hanya sekadar transfer ilmu (transfer of knowledge), tetapi harus menjadi transfer nilai (transfer of value). Sekolah dan keluarga wajib bersinergi untuk melahirkan warga negara yang tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga santun secara sosial.

 

Kampung Merah Putih di sudut kota Banjarmasin. Salah satu cara efektif menanamkan cinta tanah air dan memiliki rasa empati terhadap lingkungan bagi generasi muda .(Foto-PPWK).

Strategi Menanamkan “Gen” Pancasila

Menanamkan rasa cinta NKRI dan toleransi pada anak tidak bisa dilakukan dengan paksaan. Diperlukan pendekatan komprehensif yang menyentuh hati dan logika:

Revolusi Keteladanan di Rumah: Orang tua adalah kurikulum pertama bagi anak. Menghormati perbedaan harus dimulai dari meja makan. Hindari stereotip dan ujaran kebencian dalam percakapan sehari-hari karena anak adalah peniru yang ulung.

Literasi Kebangsaan yang Menyenangkan: Ubah cara bercerita tentang sejarah. Kenalkan kekayaan budaya Nusantara melalui narasi yang menggugah imajinasi, bukan sekadar angka tahun kemerdekaan yang membosankan. Dampingi mereka di dunia maya agar mampu menyaring informasi yang memecah belah.

Pembiasaan Interaksi Sosial: Berikan ruang bagi anak untuk bergaul lintas identitas. Bermain tanpa memandang suku atau agama akan menumbuhkan otot-otot toleransi sejak dini.

Kurikulum Toleransi di Sekolah: Sekolah harus menjadi laboratorium keberagaman. Melalui proyek kelompok yang heterogen, anak belajar bahwa perbedaan bukan pemisah, melainkan kekayaan yang menguatkan.

Pancasila adalah benteng terakhir kita di tengah badai global. Dengan penanaman nilai yang konsisten dan penuh kasih sayang, kita sedang menyiapkan generasi penerus yang berintegritas pribadi yang beriman, beretika, dan cinta tanah air.

Mari kita sadari bahwa setiap langkah kecil dalam mengajarkan tata krama hari ini adalah investasi besar bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia di masa depan. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya dilihat dari kemajuan teknologinya, melainkan dari kedalaman moralitas generasinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!