Jangan Setengah Jalan, Pariwisata Kalsel Sudah di Jantung Indonesia
Foto Ilustrasi - Transformasi Pasar Terapung Lok Baintan dan Dermaga Pasar Terapung di Taman Mini Indonesia Indah. (Foto - Dok Risanta).
Oleh: Muhammad Risanta
Selama puluhan tahun, narasi tentang Pasar Terapung Kalimantan Selatan seringkali hanya berhenti sebagai “eksotisme pinggiran”.
Ia dikagumi dalam lembaran brosur wisata atau sekilas cuplikan berita, namun aksesnya tetap terasa jauh bagi publik nasional.
Namun, peresmian Dermaga Pasar Terapung di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada Sabtu (11/04/2026) lalu, mengubah peta permainan itu secara total.
Kalimantan Selatan tidak lagi sekadar “menunggu tamu” di dermaga Lok Baintan atau Muara Kuin. Hari ini, Banua telah memindahkan “ruang tamunya” ke jantung Indonesia.
Langkah Gubernur H. Muhidin membawa miniatur budaya sungai ke ibu kota adalah sebuah pernyataan politik kebudayaan yang tegas. Ini bukan sekadar seremoni potong pita atau penandatanganan prasasti di atas batu marmer.

Melainkan adalah bentuk penetrasi pasar dan diplomasi identitas. Ketika pasar terapung hadir secara permanen di TMII, Kalsel sedang melakukan penetrasi ke simpul syaraf pariwisata nasional.
Secara akademis, transformasi ini dapat dibaca sebagai upaya “hilirisasi budaya”. Jika selama ini kita hanya sibuk bicara hilirisasi industri tambang atau sawit, maka apa yang dilakukan Pemprov Kalsel di TMII adalah hilirisasi industri kreatif.
Kita tidak lagi hanya menjual “bahan mentah” berupa pemandangan alam, melainkan menjual “pengalaman budaya” (cultural experience) yang terintegrasi dengan UMKM, fashion Wastra Banua, hingga kuliner khas.
Namun, ada catatan penting yang harus digarisbawahi “ Jangan setengah jalan”.
Keberadaan dermaga di TMII ini hanyalah pintu masuk. Tantangan sesungguhnya adalah konsistensi. Sebuah destinasi akan mati jika kehilangan denyut nadinya.
Instruksi Gubernur agar seluruh Bupati, Wali Kota, dan SKPD meramaikan lokasi ini dengan agenda mingguan adalah langkah strategis yang harus dikawal dengan disiplin tinggi. Jangan sampai dermaga ini menjadi monumen sunyi setelah gegap gempita peresmian usai.
Sinergi dengan dunia perbankan melalui TJSL Bank Kalsel menunjukkan bahwa transformasi pariwisata kita sudah mulai meninggalkan pola “proyek pemerintah” yang kaku menuju ekosistem kolaboratif.
Ini adalah modal kuat. Apalagi dengan adanya sinyal dukungan dari Kementerian Kebudayaan untuk mendorong warisan budaya tak benda Kalsel menuju UNESCO. Ini adalah “tiket emas” yang tidak boleh disia-siakan.
Pariwisata adalah industri persepsi. Dengan menanamkan bendera “Pasar Terapung” di Jakarta, Kalsel sedang membangun persepsi baru di benak masyarakat Indonesia dan dunia internasional
Faktanya sekarang itu Banua adalah provinsi yang menghargai akar tradisinya di tengah derasnya arus modernisasi.
Kini, bola panas ada di tangan kita semua. Dermaga sudah kokoh berdiri, jukung sudah bersandar di TMII.
Sekarang pertanyaannya, mampukah kita menjaga ritme ini agar transformasi wisata Kalsel benar-benar melaju kencang, bukan sekadar riak kecil yang hilang saat matahari terbenam?
Pariwisata Kalsel sudah berada di jantung Indonesia. Saatnya kita membuktikan bahwa denyutnya akan terus terasa hingga ke mancanegara.
Wonderfull Indonesia, Yok Berwisata ke Kalsel !

