Menghidupkan Roh Digital di Jantung Sekolah

0
ENDY PERPUSTAKAAN SEKOLAH

Foto Ilustrasi - Seorang pustakawan diantara para siswa yang tetap menjadi perpustakan sebagai jendela pengetahuan. (Foto-Risanta - Model : Endy).

Oleh: Muhammad Risanta

Selama bertahun-tahun, perpustakaan sekolah di banyak penjuru negeri terjebak dalam paradoks yang sunyi.

Perpustakaan itu eksis secara fisik, namun mati secara fungsi.

Tergolek di sudut gedung yang sepi, dipenuhi barisan buku yang kian menguning, dan dibalut keheningan yang lebih menekan daripada menenangkan.

Ruang yang semestinya menjadi episentrum gairah intelektual justru menjelma menjadi “gudang buku”.Sekadar tempat menyimpan pengetahuan tanpa pernah benar-benar menghidupkannya dalam nalar siswa.

Namun, angin perubahan kini berembus dari Banjarmasin. Pemerintah Kota melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) resmi mendeklarasikan sebuah transformasi radikal.

Ini bukan sekadar pembenahan administratif rutin, melainkan sebuah pergeseran paradigma (paradigm shift). Langkah besar ini dikukuhkan melalui bedah instrumen akreditasi perpustakaan sekolah yang mengacu pada Keputusan Kepala Perpusnas Nomor 187 Tahun 2025.

Sebagai jurnalis yang terbiasa memotret realitas lapangan dan akademisi yang mengurai struktur perubahan,kami melihat ini sebagai momentum krusial.

 

Asisten I Setdako Banjarmasin, H. Lukman Fadlun, menegaskan satu poin fundamental, perpustakaan harus menjadi “jantung” yang hidup. (Foto- Media Center Banjarmasin).

Kita hidup di era ketika informasi bergerak jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia menyaringnya. Jika perpustakaan tetap statis dan konvensional, maka kita secara sadar membiarkan generasi muda kehilangan arah di tengah pusaran disrupsi digital yang kian liar.

Visi yang diutarakan Asisten I Setdako Banjarmasin, H. Lukman Fadlun, menegaskan satu poin fundamental perpustakaan harus menjadi “jantung” yang hidup.

Dalam kerangka akademik, kami melihat ini adalah lompatan dari library as collection (perpustakaan sebagai artefak) menuju library as connection,sebuah ruang interaksi dan dialektika pengetahuan.

Menghidupkan “roh digital” bukan sekadar memindahkan teks ke balik layar. Melainkan dalam bahasa sederhana adalah tentang membangun ekosistem literasi yang relevan, adaptif, dan membumi melalui tiga pilar utama:

Digitalisasi sebagai Jembatan Kognitif, Implementasi e-library dan sistem otomasi bukan lagi sekadar tren, melainkan keniscayaan. Generasi Z dan Alpha adalah digital native yang menuntut akses instan.

Jika perpustakaan gagal hadir di ruang digital, maka ia akan segera menjadi artefak yang ditinggalkan.

Redesain Ruang Menjadi Learning Hub, sejatinya perpustakaan harus menanggalkan citra kaku. Karena perlu bertransformasi menjadi ruang yang “bernapas” estetik, fleksibel, dan kolaboratif.

Tempat di mana ide dieksplorasi dan kreativitas diinkubasi, jadi bukan lagi ruang sunyi yang membatasi, tetapi ruang terbuka yang menginspirasi.

Pustakawan sebagai Arsitek Pengetahuan, di tengah banjir informasi, peran pustakawan justru kian strategis.

Mereka bukan lagi penjaga rak, melainkan navigator informasi yang membimbing siswa memilah, memahami, dan memverifikasi kebenaran di tengah riuh rendah data.

Menjemput Takdir Baru Literasi

Komitmen Kepala Dispersip Banjarmasin, Ikhsan Alhak, dalam memobilisasi 150 pengelola perpustakaan sebagai garda terdepan patut diapresiasi.

Namun, lagi-lagi tantangan terbesar sesungguhnya bukan terletak pada lembar sertifikat akreditasi, melainkan pada implementasi.

Apakah transformasi ini mampu secara nyata memantik minat baca, atau hanya akan berhenti sebagai formalitas administratif yang kering?

Kami berpandangan bahwa peran kepala sekolah dan guru menjadi determinan. Tanpa sinergi, transformasi hanya akan menjadi wacana indah di atas kertas.

Dukungan anggaran hanyalah bahan bakar, namun komitmen kolektif adalah mesin yang menggerakkannya.

Sesungguhnya pula perpustakaan masa depan adalah ruang yang menghadirkan masa depan itu sendiri. Ia tidak lagi bicara tentang masa lalu yang tersimpan rapi di rak, tetapi tentang pengetahuan yang hidup, dinamis, dan membentuk cara berpikir generasi baru.

Jadi,sudah saatnya kita meninggalkan romantisme “rak berdebu” dan mulai merayakan kedaulatan intelektual di jantung sekolah.

Penulis adalah  Jurnalis Senior CNN Indonesia & Akademisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!