Stabilitas Keuangan Nasional Terjaga di Tengah Gejolak Global

0
KETUA OJK

Foto Ilustrasi - Dok Khusus Economic Travelling.Com.

Stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah meningkatnya tekanan global akibat eskalasi konflik geopolitik dan lonjakan harga energi.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode 2026–2031, Friderica Widyasari Dewi, menyatakan kondisi tersebut ditopang oleh kinerja ekonomi domestik yang masih solid.

“Stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga, didukung fundamental domestik yang kuat meskipun ketidakpastian global meningkat,” ujarnya usai Rapat Dewan Komisioner Bulanan, barusan.

Menurutnya, dinamika global saat ini dipicu oleh konflik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada terganggunya distribusi energi dunia. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.

Laporan OECD dalam Interim Economic Outlook Maret 2026 juga mencatat proyeksi ekonomi global mengalami koreksi, setelah sebelumnya diperkirakan menguat.

Situasi ini mempersempit ruang kebijakan moneter global. Bank sentral, termasuk The Fed, cenderung mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, seiring tekanan inflasi yang belum mereda.

Di Amerika Serikat, inflasi yang masih tinggi dan meningkatnya tingkat pengangguran memperkuat ekspektasi pasar bahwa pemangkasan suku bunga pada 2026 berpotensi tidak terjadi.

Sementara itu, perekonomian Tiongkok menunjukkan kinerja yang relatif lebih baik dari perkiraan, didorong stimulus sektor keuangan dan perbaikan permintaan. Namun, tekanan eksternal membuat negara tersebut tetap menurunkan target pertumbuhan.

Di dalam negeri, OJK mencatat inflasi inti pada Maret 2026 mengalami penurunan. Konsumsi masyarakat tetap kuat, tercermin dari pertumbuhan penjualan ritel yang diperkirakan mencapai 6,89 persen secara tahunan.

Dari sisi produksi, aktivitas industri masih berada di zona ekspansif, ditunjukkan oleh PMI manufaktur yang tetap positif. Ketahanan eksternal juga terjaga dengan cadangan devisa yang memadai serta neraca perdagangan yang mencatat surplus.

Di sektor pasar modal, jumlah investor terus meningkat signifikan. Sepanjang Maret 2026, terdapat penambahan 1,78 juta investor baru, sehingga total investor mencapai 24,74 juta atau tumbuh 21,51 persen sejak awal tahun.

Penghimpunan dana melalui pasar modal juga tetap kuat. Hingga Maret 2026, nilai fundraising mencapai Rp51,96 triliun, yang terdiri dari satu IPO, enam penerbitan efek utang dan sukuk, serta 36 penawaran umum berkelanjutan.

Selain itu, terdapat 53 rencana penawaran umum dalam pipeline dengan nilai indikatif Rp25,79 triliun.

Pada skema Securities Crowdfunding (SCF), sepanjang Maret 2026 dihimpun dana sebesar Rp18,07 miliar dari 14 efek baru dan tiga penerbit baru. Secara kumulatif, total dana yang terkumpul melalui SCF mencapai Rp1,90 triliun.

Di pasar derivatif keuangan, sejak Januari 2025 hingga Maret 2026, sebanyak 113 pihak telah memperoleh persetujuan prinsip dari OJK. Selama Maret 2026, volume transaksi tercatat 34.480 lot dengan frekuensi 308.260 transaksi.

Sementara itu, Bursa Karbon Indonesia juga terus berkembang. Hingga akhir Maret 2026, tercatat 153 pengguna jasa dengan tambahan volume transaksi sebesar 43.117 ton CO2 ekuivalen dan total nilai transaksi mencapai Rp93,71 miliar.

OJK menegaskan akan terus memperkuat pengawasan dan menjaga stabilitas sektor jasa keuangan guna menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.(Olpah Sari).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!