Ada Jembatan Garuda Berakhirnya Isolasi Basirih–Aluh-Aluh
Wali Kota Banjarmasin HM Yamin HR dan Danrem 101 Antasari Brigjen TNI Ilham Yunus bersama Dandim 1007/Banjarmasin Kolonel CZI Slamet Riyadi serta Ketua DPRD kota Banjarmasin Rikval Fahruri memeriksa dari dekat jembatan penghubung Aluh-Aluh-Basirih. (Foto-Media Center Banjarmasin).
Terpinggirkan selama puluhan tahun, Jembatan Garuda di perbatasan Basirih, Banjarmasin Selatan, dan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, akhirnya memasuki babak baru.
Akses vital yang selama ini menjadi tumpuan warga, namun rapuh dan membahayakan,kini mulai dibangun kembali, menghadirkan harapan yang lama tertunda.
Senin, 6 April 2026, peletakan batu pertama dilakukan di Kelurahan Basirih. Momentum ini menjadi lebih dari sekadar seremoni.
Hal ini menandai hadirnya negara di titik yang selama ini nyaris luput dari perhatian, tempat di mana warga bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan akses.
Kegiatan tersebut dihadiri Danrem 101/Antasari Brigjen TNI Ilham Yunus, Dandim 1007/Banjarmasin Kolonel CZI Slamet Riyadi, Wali Kota Banjarmasin H M Yamin HR, jajaran TNI, perangkat daerah, serta tokoh masyarakat.
Pembangunan ini merupakan bagian dari program terpadu TNI di wilayah Kodam XXII/Tambun Bungai yang difokuskan pada daerah dengan keterbatasan infrastruktur dasar.
Brigjen TNI Ilham Yunus menegaskan, pembangunan Jembatan Perintis Garuda merupakan wujud nyata kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Lebih dari itu, proyek ini menjadi jawaban atas kebutuhan mendesak warga yang selama ini terhambat aksesnya.
“Jembatan ini bukan hanya infrastruktur, tetapi penghubung kehidupan. Akses pendidikan, layanan publik, hingga distribusi logistik akan jauh lebih lancar. Dampaknya langsung pada kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembangunan serupa juga tengah dilakukan di 16 titik lainnya, terdiri dari delapan jembatan gantung dan delapan jembatan beton yang menyasar wilayah sulit dijangkau.
Di sisi teknis, tantangan utama terletak pada kondisi tanah rawa.
Namun, Dandim 1007/Banjarmasin Kolonel CZI Slamet Riyadi memastikan konstruksi telah dirancang adaptif agar tetap kokoh dan berumur panjang.
“Ini akses vital bagi masyarakat, terutama anak-anak sekolah dan aktivitas ekonomi harian. Kami targetkan selesai dalam tiga bulan, bahkan diupayakan lebih cepat agar manfaatnya segera dirasakan,” katanya.
Wali Kota Banjarmasin H M Yamin HR menekankan, jembatan sepanjang 74 meter dengan lebar 2 meter ini akan memperkuat konektivitas antarwilayah sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
“Jembatan ini menghubungkan Banjarmasin dengan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar. Dampaknya tidak hanya pada mobilitas, tetapi juga pada peningkatan kualitas pendidikan dan ekonomi masyarakat. Kami berharap pembangunan seperti ini terus berlanjut,” ujarnya optimis.
Yamin juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden RI Prabowo Subianto atas dukungan terhadap pembangunan infrastruktur yang menyentuh langsung kebutuhan rakyat.
Selama ini, warga hidup dalam bayang-bayang risiko. Jembatan lama yang bergoyang, bahkan sempat roboh, menjadi penghambat sekaligus ancaman nyata.
Aktivitas sehari-hari, dari berangkat sekolah hingga mencari nafkah,dilakukan dengan rasa cemas yang tak pernah benar-benar hilang.
Kini, rasa itu mulai bergeser menjadi harapan.
Hamdani, warga Basirih, mengaku lega dengan dimulainya pembangunan tersebut. Ia menyebut jembatan ini sebagai kebutuhan mendesak yang telah lama dinanti.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur. Sudah lama kami menunggu. Dulu kalau melintas selalu was-was, jembatannya goyang, bahkan pernah roboh. Sangat berbahaya, terutama malam hari,” tuturnya.
Catatan Pemerintah Kota Banjarmasin Pembangunan Jembatan Garuda bukan sekadar proyek fisik. Ini adalah simbol perubahan dari keterisolasian menuju keterhubungan, dari kecemasan menuju kepastian, dan dari penantian panjang menuju masa depan yang lebih layak bagi masyarakat.(Ridzky Husna).
