Menggerakkan Ekonomi dari Akar, Tiga Agenda Besar Machli Riyadi

0
MACHLI YAMIN OK

Foto Ilustrasi - Wali Kota Banjarmasin HM Yamin HR dan Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja (Diskopumker) Kota Banjarmasin, Machli Riyadi (Foto - Economic Travelling.Com).

Langkah Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja (Diskopumker) Kota Banjarmasin, Dr. Machli Riyadi menempatkan koperasi, UMKM, dan penurunan pengangguran sebagai tiga prioritas utama bukan sekadar agenda birokratis.

Dalam sudut pandang redaksi ini adalah upaya merumuskan ulang arah ekonomi daerah dari sekadar mengejar pertumbuhan menuju penguatan fondasi ekonomi rakyat.

Dalam membaca arah ini, redaksi melihat satu hal menarik pendekatan Machli berada di persimpangan dua gaya kepemimpinan ekonomi, antara pendekatan teknokratis yang disiplin ala Purbaya Yudhi Sadewa dan pendekatan lapangan yang membumi dan adaptif.

Perpaduan ini, jika dikelola dengan tepat, dapat menjadi kekuatan. Namun jika tidak terjaga, justru berpotensi melahirkan kebijakan yang kuat di atas kertas, tetapi lemah di lapangan.

Koperasi Itu Disiplin Sistem, Kuat di Akar

Penguatan Koperasi Merah Putih membawa kembali semangat ekonomi gotong royong,sebuah gagasan yang sejak era Muhammad Hatta diyakini sebagai pilar ekonomi kerakyatan.

Namun koperasi hari ini tidak cukup hanya mengandalkan semangat. Ia membutuhkan disiplin tata kelola, akuntabilitas, dan keberlanjutan model bisnis.Sebuah pendekatan yang selama ini identik dengan gaya kebijakan makro yang ketat.

 

Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Tenaga Kerja (Diskopumker) Kota Banjarmasin, Dr. Machli Riyadi. (Foto – Media Center Banjarmasin).

Karenanya pendekatan ala Purbaya yang menekankan stabilitas, kehati-hatian, dan struktur yang kuat menjadi relevan. Koperasi harus dikelola seperti institusi ekonomi modern transparan, terukur, dan memiliki manajemen risiko.

Sementara itu, gaya Machli yang lebih membumi menjadi kunci agar koperasi tetap kontekstual dan tidak tercerabut dari realitas masyarakat.

Catatan redaksi:
Tanpa disiplin sistem, koperasi akan rapuh. Tanpa kedekatan dengan masyarakat, koperasi akan kehilangan ruhnya.

Arah perbaikan:
Menggabungkan keduanya membangun koperasi yang kuat secara sistem, sekaligus hidup dalam praktik sosial-ekonomi masyarakat.

UMKM Antara Intervensi Negara dan Daya Saing Pasar

UMKM adalah sektor yang paling nyata denyutnya di lapangan. Namun sektor ini juga yang paling rentan terhadap kebijakan yang tidak tepat sasaran.

Pendekatan teknokratis cenderung menekankan intervensi terukur, dengan akses pembiayaan, stimulus, dan program formal. Sementara pendekatan lapangan melihat kebutuhan yang lebih fleksibel: akses pasar, jejaring, dan adaptasi cepat.

Machli berada di antara dua pendekatan ini.

Catatan redaksi:
Jika terlalu birokratis, UMKM akan terjebak dalam prosedur. Jika terlalu longgar, arah pengembangannya menjadi tidak terukur.

Arah perbaikan:
Diperlukan keseimbangan, kebijakan yang presisi berbasis data, tetapi eksekusi yang lincah dan adaptif. Inkubasi bisnis harus berbasis hasil, bukan sekadar pelatihan. Intervensi pemerintah harus mendorong kemandirian, bukan ketergantungan.

Pengangguran, Antara Stabilitas Angka vs Realitas Lapangan

Dalam perspektif makro, pengangguran adalah indikator stabilitas ekonomi. Namun di lapangan, ia adalah persoalan sosial yang nyata, tentang kesempatan, keterampilan, dan harapan.

Pendekatan ala Purbaya akan melihat pentingnya menjaga keseimbangan dan stabilitas pasar tenaga kerja. Sementara Machli menekankan penciptaan peluang langsung di masyarakat.

Keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Catatan redaksi:
Fokus pada angka tanpa solusi struktural akan menghasilkan kebijakan jangka pendek. Sebaliknya, pendekatan populis tanpa arah akan kehilangan keberlanjutan.

Arah perbaikan:
Menyatukan pendekatan: pelatihan kerja berbasis kebutuhan industri (link and match), diperkuat dengan penciptaan lapangan kerja melalui UMKM dan koperasi.

 

Foto Ilustrasi – Ketua STIE Pancasetia Dr Sutrisno SE MM bersama Ketua Koperasi Credit Union Sumber Sejahtera memperlihatkan dokumen Mou kerjasama. Keandalan Koperasi Credit Union bisa diadopsi koperasi lainnya sesuai kebutuhan.(Foto – Israul Huda).

Satu Ekosistem, Dua Pendekatan

Tiga agenda besar ini hanya akan berhasil jika dibangun dalam satu ekosistem yang utuh.

Jadi di sinilah perpaduan gaya menjadi krusial:

Disiplin kebijakan dan tata kelola (teknokratis)

Fleksibilitas dan kedekatan dengan masyarakat (adaptif)

Catatan redaksi:
Tanpa disiplin, program mudah melenceng. Tanpa fleksibilitas, program sulit menyentuh realitas.

Arah perbaikan:
Membangun sistem yang kuat, tetapi tetap memberi ruang inovasi di lapangan. Pemerintah tidak hanya menjadi regulator, tetapi juga fasilitator dan akselerator.

Sejatinya pula ujian sesungguhnya bukan pada perumusan kebijakan, melainkan pada konsistensi pelaksanaan.

Machli telah memulai dengan arah yang jelas. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara ketegasan sistem dan keluwesan eksekusi.

Redaksi melihat, kekuatan terbesar dari agenda ini terletak pada potensinya menyatukan dua hal yang sering dipisahkan, antara rasionalitas kebijakan dan keberpihakan pada rakyat.

Jika keseimbangan ini terjaga, maka Banjarmasin tidak hanya akan memiliki ekonomi yang tumbuh, tetapi juga ekonomi yang adil, tangguh, dan berakar kuat.

Harapan kita semua ekonomi tidak sekadar bergerak melainkan bergerak dengan arah, dengan daya tahan, dan dengan makna.(Tim Redaksi).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!