Menjaga Jembatan Harapan Tetap di Jalurnya
Foto Ilustrasi - Indahnya dan megahnya Jembatan Tanah Bumbu - Kotabari kelak di tahun 2028. (Foto - M,Irfani - Economic Travelling - Model : Poppy - Made Ludya).
Jika kelak Jembatan Batulicin–Kotabaru benar-benar terwujud, ia tidak hanya menghubungkan dua daratan.
Namun akan menyambungkan harapan yang selama ini terpisah oleh laut, jarak, dan keterbatasan akses di Kalimantan Selatan.
Jembatan ini adalah simbol dari sebuah lompatan. Dari keterisolasian menuju keterhubungan. Dari ekonomi yang bergerak lambat menuju arus logistik yang lebih cepat dan efisien.
Dari ketimpangan menuju peluang yang lebih merata hingga ke wilayah terluar seperti Kotabaru dan Tanah Bumbu.
Namun, harapan tidak pernah cukup hanya dibangun di atas beton dan baja.Karena butuh effort panjang serta ujian hingga ke garis akhir.
Proyek bernilai triliunan rupiah ini bukan sekadar soal konstruksi, melainkan tentang tata kelola. Tentang bagaimana setiap rupiah dijaga, setiap tahapan diawasi, dan setiap keputusan diambil dengan integritas. Pengawasan yang ketat bukan lagi pilihan, melainkan keharusan mutlak.
Ingat pula, sejarah pembangunan infrastruktur di berbagai daerah mengajarkan satu hal penting, proyek besar kerap tergelincir bukan karena kekurangan visi, tetapi karena lemahnya pengawasan.
Keterlambatan, pembengkakan biaya, hingga kualitas yang tak sesuai standar menjadi risiko yang nyata jika kontrol tidak berjalan.
Karena itu Jembatan Batulicin Kotabaru tidak boleh mengalami nasib yang sama.
Karena itu, semua pihak harus mengambil peran. Pemerintah daerah sebagai pemilik proyek, kontraktor sebagai pelaksana, hingga masyarakat sebagai pengawas sosial.
Transparansi harus dibuka seluas-luasnya. Progres pembangunan perlu disampaikan secara berkala. Setiap potensi penyimpangan harus ditutup sejak awal.
Tidak kalah penting, proyek ini harus steril dari kepentingan sempit yang justru merugikan kepentingan publik. Infrastruktur sebesar ini tidak boleh menjadi ruang kompromi bagi praktik yang menyimpang. Ia harus berdiri tegak sebagai proyek untuk rakyat, bukan untuk segelintir kepentingan.
Jika semua berjalan sesuai rencana, maka 2028 bukan sekadar tahun peresmian. Jembatan impian ini akan menjadi tonggak bahwa mimpi panjang masyarakat akhirnya menemukan jalannya. Bahwa pembangunan tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga berhasil secara moral dan tata kelola.
Happy endingnya jembatan ini akan diingat bukan hanya karena panjangnya atau megahnya, tetapi karena proses di baliknya. Apakah ia dibangun dengan kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab.
Sebab jembatan sejati bukan hanya yang menghubungkan wilayah, tetapi juga yang menghubungkan kepercayaan publik dengan kinerja pemerintah.Mari kita jaga dan awasi bersama, agar Jembatan Tanah Bumbu-Kotabaru selesai tepat waktu !.(Tim Redaksi).
