Lebaran yang Menghidupkan Makna di Keluarga Dr Ernawati
Foto Ilustrasi - Memaknai lebaran dengan berbagi di sepanjang hari-hari lebaran. (Foto - Olpah Sari).
Dari Open House hingga Berbagi Tanpa Batas di Jalanan
Di sebuah sudut hangat kawasan Jalan Sriwijaya, Pesona Langit, Landasan Ulin Utara, suasana Lebaran terasa lebih dari sekadar perayaan.
Di rumah Dr. Ernawati, pintu tak hanya terbuka untuk tamu yang datang bersilaturahmi, tetapi juga untuk nilai-nilai kemanusiaan yang terus dijaga dari tahun ke tahun.
Senin itu (23/03/2026), halaman rumahnya dipenuhi canda, obrolan ringan, dan pelukan hangat. Open house menjadi ruang temu antara rekan sejawat, sahabat, hingga keluarga besar.
Sebagai seorang dosen senior di STIE Pancasetia Banjarmasin, Dr. Ernawati terbiasa dengan dunia akademik yang serius. Namun di momen Lebaran, ia menjelma menjadi tuan rumah yang menghadirkan kehangatan tanpa sekat.
Bagi Dr. Ernawati, Lebaran bukan sekadar tradisi menerima tamu. Ada makna yang lebih dalam yang selalu ia rawat adalah berbagi.

Keesokan harinya, Selasa, suasana berubah menjadi lebih sederhana namun sarat makna. Bersama keluarga, ia turun langsung membagikan makanan segar kepada masyarakat sekitar tukang ojek, penarik becak, hingga para pemulung yang sering luput dari perhatian. Tanpa panggung, tanpa seremoni, hanya ketulusan yang mengalir dari tangan ke tangan.
Makanan yang dibagikan bukan sekadar hidangan, tetapi simbol kepedulian. Di hari keempat Lebaran, ketika sebagian orang mulai kembali pada rutinitas, Dr. Ernawati justru memperpanjang makna hari raya dengan cara yang lebih membumi.
Ia memastikan bahwa kebahagiaan Idul Fitri tidak berhenti di ruang tamu, tetapi menjangkau mereka yang berada di pinggir kehidupan.
“Lebaran itu bukan hanya tentang berkumpul, tetapi juga tentang merasakan dan memberi,” seolah menjadi prinsip yang ia jalankan tanpa perlu banyak kata.

Apa yang dilakukan Dr. Ernawati mengingatkan kita bahwa esensi Idul Fitri terletak pada keseimbangan antara merayakan dan berbagi.
Open house mempererat silaturahmi, sementara berbagi menjadi jembatan empati. Keduanya berjalan beriringan, menciptakan harmoni yang utuh.
Di tengah dunia yang semakin cepat dan individual, kisah ini menjadi oase. Bahwa kebahagiaan sejati justru hadir saat kita mampu menghadirkan senyum bagi orang lain.
Tak perlu menunggu berlebih, cukup dengan niat dan kepedulian.
Lebaran mungkin datang setahun sekali, tetapi semangatnya bisa hidup setiap hari selama kita mau membuka hati, seperti yang dilakukan Dr. Ernawati dan keluarganya.(Olpah Sari).
