Lebaran Berwisata di Taman Seratus Hektar
Rumah Hobbit Kebun Raya Banua berdiri mungil, menjadi magnet kamera. Anak-anak antre untuk berfoto, sementara orang dewasa tak kalah antusias. (Foto - Olpah Sari).
Di pagi yang masih menyisakan aroma ketupat dan opor, langkah-langkah sebagian besar keluarga mulai mengarah ke satu titik hijau di pinggiran kota.
Di Banjarbaru, ruang terbuka itu bernama Kebun Raya Banua, yang memiliki hamparan seluas seratus hektar yang pelan-pelan menjadi tujuan pulang kedua selepas silaturahmi Lebaran.
Tak ada hiruk-pikuk berlebihan. Hanya suara anak-anak berlarian, sesekali tawa pecah di antara lorong hijau, dan desir angin yang menggerakkan daun.
Di sudut lain, sepasang orang tua duduk di gazebo, mengawasi anaknya yang sibuk mencari jalan keluar dari taman labirin. Lebaran, di sini, terasa lebih sederhana dan mungkin justru itu yang dicari.
Kebun Raya Banua bukan sekadar taman kota. Tempat ini adalah ruang konservasi yang menyimpan ribuan jenis tanaman, dari yang akrab di dapur hingga yang nyaris punah di hutan Kalimantan.
Tercatat lebih dari dua ribu tanaman obat tumbuh berdampingan dengan ratusan spesimen anggrek. Sebagian diberi label rapi, sebagian lain dibiarkan tumbuh seperti ingin menceritakan asal-usulnya sendiri.

Di zona tanaman aromatik, udara berubah. Wangi rempah dan dedaunan menyeruak pelan. Nurul, Seorang ibu muda berhijab tampak memetik daun dengan hati-hati, lalu mendekatkannya ke hidung anaknya.
“Ini sereh,” katanya. Sang anak mengangguk, seolah baru saja menemukan sesuatu yang penting. Di tempat seperti ini, pengetahuan tak datang lewat buku, melainkan pengalaman.
Tak jauh dari sana, Rumah Hobbit berdiri mungil, menjadi magnet kamera. Anak-anak antre untuk berfoto, sementara orang dewasa tak kalah antusias.
Di era ketika hampir semua momen harus dibagikan, sudut-sudut estetik seperti ini menjadi penanda bahwa alam pun bisa bersanding dengan budaya populer.
Namun, daya tarik Kebun Raya Banua tak berhenti pada estetika. Di balik jalur pedestrian yang rapi dan embung yang tenang, ada cerita tentang reklamasi dan pemulihan.
Tugu reklamasi berdiri sebagai penanda bahwa lahan yang dulunya rusak bisa kembali hidup. Sebuah pengingat sunyi bahwa alam, bila diberi kesempatan, selalu punya cara untuk pulih.
Momentum Lebaran memberi arti tambahan bagi tempat ini. Kepala UPTD Kebun Raya Banua, Rahmat Maidiyanto, seperti dilansir Media Center Kalsel menyebutkan bahwa kawasan ini direncanakan kembali dibuka pada H+2 Idulfitri. Bukan tanpa alasan.
“Biasanya setelah hari raya, masyarakat masih dalam suasana liburan,” ujarnya.
Warga dari berbagai daerah dari Banjarmasin hingga Martapura.Mereka datang membawa keluarga, mencari jeda sebelum kembali ke rutinitas.
Di tengah padatnya agenda Lebaran,dari kunjungan ke rumah sanak saudara hingga tradisi makan bersama, Kebun Raya Banua menawarkan alternatif, ruang untuk diam, berjalan pelan, dan mungkin merenung, tetapi juga untuk bergembira.
Di embung botani, air memantulkan langit yang bersih. Seorang remaja duduk sendiri di tepiannya, menatap jauh, seolah sedang merapikan sesuatu di dalam dirinya.
Barangkali itulah makna lain dari libur Lebaran bukan sekadar perayaan, tetapi juga sejenak refreshing.
Dan di kebun raya ini, healing itu menemukan bentuknya, dalam hijaunya dedaunan, dalam langkah-langkah ringan di jalur setapak, dan dalam kesadaran sederhana bahwa pulang tak selalu berarti kembali ke rumah, tetapi juga kembali ke alam.
Di akhir hari, ketika matahari mulai turun dan pengunjung perlahan beranjak pergi, Kebun Raya Banua kembali sunyi.
Namun sunyi yang hidup, karena ada menyimpan cerita, menunggu untuk kembali dipenuhi tawa pada hari berikutnya.Yuk wisata lebaran ke Kebun Raya Banua !.


Mantap sangat memukau dan perpu direalisasikan