Khong Guan Kaleng Merah, Ekuitas Abadi

0
RISANTA KALENG KHONG GUAN

Foto Ilustrasi - Penulis saat berkunjung ke Toko Biskuit dan melihat kuatnya branding biskuit lebaran Khong Guan hingga bertahan dalam lintasan zaman. (Foto - Risanta).

Bagaimana Konsistensi Kemasan Menciptakan Brand Equity Puluhan Tahun

Oleh: Muhammad Risanta

Setiap Lebaran, yang satu ini selalu datang tanpa perlu diundang. Duduk tenang di atas meja tamu, di antara toples nastar dan kastengel, dengan warna merah menyala yang sulit diabaikan.  

Biasannya Tutupnya dibuka, wafer dan biskuit krim cepat berpindah ke piring kecil. Beberapa hari kemudian, isinya mungkin tinggal remah. Beberapa minggu kemudian, kalengnya berubah fungsi dan bertranformasinvmenjadi wadah rengginang atau kerupuk.

Namun yang tak berubah adalah gambarnya seorang ibu dan dua anak di meja makan.

Di tengah dunia pemasaran yang gemar berganti wajah, Khong Guan memilih bertahan. Inilah kekuatannya bertahan di antara generasi dan zaman.

Banyak merek percaya pada hukum pembaruan, desain harus segar, logo harus minimalis, warna harus mengikuti selera generasi baru. Rebranding menjadi ritual berkala.

Khong Guan menempuh jalan sebaliknya. Ilustrasi klasiknya nyaris tak berubah sejak awal 1970-an. Tak ada revolusi visual. Tak ada eksperimen tipografi. Kaleng merah itu seperti menolak tunduk pada zaman.

Pilihan ini kerap disalahpahami sebagai konservatisme. Padahal, dalam kacamata ekonomi-branding, konsistensi adalah investasi jangka panjang.

Brand equity,nilai tambah yang melekat pada sebuah merek, yang tidak lahir dari gegap gempita iklan semata. Karena ini tumbuh dari repetisi yang sabar. Dari kehadiran yang ajek. Dari pengalaman yang diulang-ulang hingga menjadi kebiasaan.

Kaleng merah itu bekerja dalam diam. Ia tidak memaksa diingat. Ia sudah teringat.

 

Foto Ilustrasi – Seorang sales marketing memberikan info penting biskuit lebaran seperti Khong Guan. (Foto – Risanta).

Menguasai Ingatan, Menguasai Pasar

Dalam teori pemasaran modern, ada istilah mental availability, kemudahan sebuah merek muncul dalam benak konsumen saat kategori produk disebut.

Coba sebut “biskuit Lebaran”. Bagi banyak orang Indonesia, yang muncul pertama bukan merek lain, melainkan bayangan kaleng merah dengan ilustrasi keluarga itu.

Inilah bentuk dominasi yang paling halus, ketika merek tidak lagi dipilih, melainkan otomatis hadir dalam ingatan.

Saat Ramadan tiba, keputusan pembelian tak lagi sepenuhnya rasional. Ia bergerak oleh kebiasaan dan nostalgia. Khong Guan telah menempatkan dirinya sebagai default option, pilihan yang dianggap wajar, aman, dan nyaris tak perlu dipertanyakan.

Dalam ekonomi, posisi ini mahal. Dan sulit direbut.

Nostalgia sebagai Kapital Emosional

Penulis sendiri pun sempat terbawa nostagia ke masa lalu. Karena Lebaran adalah ruang emosional. Ia bukan sekadar momentum konsumsi, melainkan peristiwa sosial yang sarat memori.

Anak-anak yang dulu memutar-mutar kaleng untuk mencari wafer favorit kini telah menjadi orang tua. Mereka membeli merek yang sama bukan semata karena rasa, tetapi karena kenangan.Sama halnya yang dialami penulis.

Dan nostalgia berubah menjadi kapital. Ia menciptakan loyalitas yang tak gampang digoyang diskon pesaing. Sejatinya memang membangun toleransi harga. Ia menumbuhkan rasa percaya yang diwariskan antar-generasi.

Brand equity semacam ini tak bisa dibangun dalam satu dekade. Ia memerlukan waktu, konsistensi, dan kesabaran.

Pasar makanan ringan terus berubah. Kemasan makin modern, desain makin minimalis, warna makin berani. Produk-produk baru datang dengan jargon kekinian.

Namun dalam lanskap yang riuh itu, kaleng merah justru menjadi jangkar. Ia menghadirkan stabilitas visual di tengah kebisingan tren.

Dari sudut bisnis, stabilitas ini berarti efisiensi. Tak ada biaya rebranding besar-besaran. Tak ada risiko kehilangan identitas. Distribusi tetap lancar karena konsumen tak pernah bingung mengenali produknya.

Dalam pandangan penulis sendiri yang menarik, Khong Guan tak lagi sekadar biskuit. Yang satu ini telah menjadi simbol jamuan. Simbol kesederhanaan yang egaliter,hadir di rumah sederhana maupun rumah besar.

Bahkan ketika isinya habis dan kalengnya diisi rengginang, merek itu tetap hidup dalam ruang domestik. Ia tak keluar dari rumah dan ia menetap di dapur.

Dalam istilah ekonomi budaya, ini adalah embedded brand presence, merek yang tertanam dalam keseharian, melampaui fungsi komersialnya.

Ekuitas yang Tak Tercatat di Neraca

Dalam laporan keuangan, brand equity mungkin tercatat sebagai aset tak berwujud. Namun di ruang tamu setiap Lebaran, ia tampil nyata.

Ia hadir dalam tawa anak-anak. Dalam obrolan ringan tamu yang berkunjung. Dalam kebiasaan kecil membuka kaleng yang sama dari tahun ke tahun.

Puluhan tahun berlalu, generasi berganti, gaya hidup berubah. Tetapi kaleng merah itu tetap di sana tanpa perlu kampanye bombastis.

Mungkin inilah pelajaran terpenting dari Khong Guan.
bahwa dalam dunia yang tergesa-gesa mengejar kebaruan, konsistensi bisa menjadi strategi paling radikal.

Dan selama tradisi silaturahmi masih hidup, selama meja tamu tetap menjadi ruang berbagi, selama itu pula ekuitas kaleng merah akan terus bertahan.

Bukan sekadar merek. Melainkan bagian dari ritme ekonomi dan memori bangsa.

*Penulis adalah Jurnalis Senior CNN Indonesia dan Akademisi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!