Menjaga Nyala Iman di Atas Gelombang

0
AMANG ARIEL

Amang Aril (kanan) bersama rekannya sesama ABK saat bertugas membawa tongkang berisi batubara melintasi laut Jawa. (Foto - M.Irfani).

Angin asin berembus pelan di geladak kapal tugboat yang menarik tongkang sarat “emas hitam” batubara ,  melintasi perairan Muara Banjar dan Laut Jawa.

Matahari belum sepenuhnya tinggi ketika para awak kapal mulai beraktivitas. Mesin menderu stabil, tali tambat menegang, dan lambung tongkang perlahan membelah arus menuju muara Banjar.

Di antara deru itu, ada sunyi yang hanya dipahami mereka yang berpuasa di tengah laut.

Bulan Ramadan bagi awak kapal bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ini adalah ujian kesabaran yang datang bersamaan dengan terik matahari, ritme kerja tanpa jeda, dan jarak yang memisahkan dari keluarga. Tugboat penarik tongkang batubara tak mengenal kalender ibadah. Ia bergerak mengikuti jadwal pengiriman dan arus pasang surut.

Syahril, 63 tahun, berdiri tegap di dek, matanya awas memantau tarikan tali baja. Tiga dekade ia habiskan sebagai anak buah kapal (ABK). Wajahnya legam terbakar matahari, gurat-gurat pengalaman terukir jelas. Ramadan di laut, baginya, bukan hal baru.

“Puasa di darat beda dengan di laut,” ujarnya pelan, nyaris tenggelam oleh suara mesin. “Kalau di rumah, waktu terasa cepat. Di laut, jam seperti berjalan lambat, apalagi saat siang terik.”

 

Syahril  (kanan) dan temannya menikmati sahur di tengah laut saat berlayar. (Foto – Dok Syahril).

Menjelang siang, panas memantul dari besi geladak. Sepatu keselamatan terasa panas di telapak kaki. Air minum tersedia di kabin, tetapi bagi yang berpuasa, botol itu hanya menjadi pengingat kesabaran.

Para ABK tetap bekerja memeriksa mesin, memastikan arah tongkang stabil, memantau cuaca. Tongkang di belakang mereka mengangkut ribuan ton batubara  komoditas yang menjadi denyut nadi listrik dan industri. Di atasnya, debu hitam beterbangan setiap kali angin bertiup kencang.

Syahril yang merupakan warga Pekauman Banjarmasin, mengaku, yang paling berat bukan sekadar haus.

“Kadang ombak tinggi, badan terkuras. Tapi justru di situ rasanya lebih dekat dengan Tuhan,” katanya.

Di tengah laut lepas, tanpa suara azan yang terdengar dari masjid kampung, mereka mengandalkan jam kapal dan aplikasi penunjuk waktu salat.

Saat azan magrib tiba, buka puasa dilakukan sederhana. Kurma, air putih, kadang mi instan atau lauk seadanya dari dapur kecil kapal. Mereka duduk melingkar di ruang makan sempit, berbagi cerita, berbagi tawa. Kebersamaan itu menjadi pengganti hangatnya meja makan keluarga.

Tak jarang, cuaca berubah cepat di Laut Jawa. Angin barat membawa gelombang tinggi. Kapal bergoyang lebih keras, membuat langkah harus lebih berhati-hati. Dalam kondisi demikian, puasa tetap dijalankan sebisanya.

“Kalau kondisi darurat dan sangat berat, ada keringanan. Tapi selama masih kuat, kami pilih teruskan,” ujar Syahril. Ia percaya, setiap tetes keringat yang jatuh di geladak adalah bagian dari ibadah.

Menjelang malam, setelah salat tarawih dilakukan bergantian di ruang navigasi yang disulap seadanya, sebagian ABK memilih beristirahat. Sebagian lagi berjaga, memastikan perjalanan tetap aman hingga merapat di muara Banjar. Lampu-lampu kapal memantul di permukaan air yang gelap, seperti bintang jatuh yang enggan padam.

Bagi Syahril yang akrab disapa Amang Aril, Ramadan di laut adalah catatan panjang perjuangan hidup. Ia telah melewati masa-masa sulit badai besar, mesin rusak di tengah pelayaran, hingga momen Lebaran yang terpaksa dirayakan jauh dari rumah.

“Anak-anak saya sudah besar sekarang .Dulu mereka sering tanya kenapa ayah tak selalu ada saat Lebaran. Sekarang mereka paham, ini bagian dari tanggung jawab,” katanya dengan mata berbinar.

Tiga puluh tahun lebih berlayar membuatnya mengerti satu hal, bahwa laut mengajarkan keteguhan. Puasa mengajarkan kesabaran. Ketika keduanya bertemu, lahirlah ketangguhan yang tak banyak terlihat, namun nyata.

Tongkang batubara terus melaju, membawa muatan yang akan menerangi kota-kota. Di atas tugboat kecil yang menariknya, para lelaki itu menjaga dua hal sekaligus, laju kapal dan nyala iman.

Di tengah hamparan Laut Jawa yang luas, Ramadan bagi mereka bukan sekadar ritual tahunan. Tetapi adalah sejarah perjuangan yang tertulis dalam keringat, doa, dan gelombang yang tak pernah berhenti bergerak.(M.Irfani).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!