Istidraj, Ketika Kelapangan Menjadi Ujian yang Tak Terasa
Foto Ilustrasi - Penulis bersama rekan kerja doa bersama memanjatkan syukur atau keberkahan yang diterima sehari-hari. (Foto - Risanta).
Oleh Hasdi Suryadi
Di zaman yang memuja pencapaian, keberhasilan sering kali diukur dengan hal-hal yang kasatmata, yaitu kekayaan yang bertambah, jabatan yang naik, dan popularitas yang meluas. Kelancaran hidup dipandang sebagai tanda kemenangan.
Sebaliknya, kesulitan dianggap kegagalan. Logika modern menempatkan kenyamanan sebagai tujuan akhir,seolah hidup yang baik adalah hidup yang bebas hambatan.
Namun, Islam menawarkan cara pandang yang lebih sunyi, sekaligus lebih jujur. Tidak setiap kelapangan adalah tanda cinta Tuhan. Tidak setiap kenikmatan adalah penghargaan. Ada satu konsep yang menggetarkan kesadaran yakni istidraj.
Secara bahasa, istidraj berarti “menarik secara bertahap.” Dalam makna spiritual, ia menggambarkan keadaan ketika seseorang terus-menerus diberi kenikmatan, justru saat ia semakin jauh dari kebenaran.
Kenikmatan itu bukan hadiah, melainkan penangguhan. Bukan pelukan, melainkan tarikan halus menuju konsekuensi yang tak disadari.
Al-Qur’an mengisyaratkan fenomena ini dengan nada yang tenang, tetapi tajam. Mereka yang mendustakan ayat-ayat Tuhan, disebut akan “ditarik secara berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka ketahui.”
Tidak ada gemuruh. Tidak ada peringatan yang dramatis. Justru sebaliknya,semuanya tampak baik-baik saja.
Istidraj tidak selalu hadir dalam bentuk kekayaan yang mencolok. Ia bekerja di wilayah yang lebih dalam, batin manusia. Seseorang bisa saja usahanya berkembang, pengaruhnya meluas, dan hidupnya penuh kemudahan.
Namun pada saat yang sama, hatinya semakin keras. Nasihat tak lagi menyentuh. Teguran terasa mengganggu. Ia mulai merasa cukup dengan dirinya sendiri.
Yang lebih halus lagi, ia mulai lupa bahwa semua itu bersumber dari Tuhan.
Dalam kondisi ini, kesuksesan berubah menjadi tirai. Ia menutupi kesadaran bahwa hidup bukan sekadar akumulasi pencapaian, melainkan perjalanan menuju makna.
Ketika nikmat tidak lagi melahirkan syukur, melainkan kesombongan, di situlah istidraj mungkin sedang bekerja diam-diam, tanpa suara.
Fenomena ini terasa semakin relevan di era digital. Ukuran keberhasilan kini direduksi menjadi angka, jumlah pengikut, tingkat keterlibatan, grafik pertumbuhan.
Pengakuan publik menjadi candu baru. Banyak orang sibuk membangun citra, tetapi lupa membangun jiwa. Mereka terlihat berhasil di luar, tetapi mungkin rapuh di dalam.
Kesibukan membuat ibadah terasa sekunder. Pujian membuat kerendahan hati memudar. Keuntungan membuat rasa syukur menipis.
Semua berjalan lancar dan justru karena itu, tak ada yang dicurigai.
Padahal, dalam perspektif spiritual, kelancaran bukan selalu pertanda keselamatan. Ia bisa menjadi ujian yang paling berat.
Kesulitan sering membuat manusia kembali kepada Tuhan. Sebaliknya, kelapangan bisa membuat manusia merasa tidak membutuhkan-Nya.
Istidraj adalah ujian yang tidak terasa seperti ujian.
Ia tidak menyakitkan. Ia tidak menakutkan. Ia bahkan menyenangkan. Itulah sebabnya iru berbahaya.
Konsep ini mengajarkan kewaspadaan yang mendalam. Setiap nikmat perlu diiringi muhasabah apakah ia mendekatkan kita kepada Tuhan, atau justru menjauhkan?
Apakah keberhasilan membuat kita lebih rendah hati, atau lebih angkuh? Apakah kelapangan membuat kita lebih bersyukur, atau lebih lalai?
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukanlah seberapa tinggi posisi seseorang di dunia, melainkan seberapa dekat ia dengan Tuhannya.
Dunia bisa memberi ilusi kemenangan. Tetapi hati yang jauh dari Tuhan adalah kekalahan yang sesungguhnya.
Istidraj mengingatkan bahwa tidak semua yang tampak baik adalah benar-benar baik. Bahwa kelapangan bisa menjadi ujian. Bahwa kenikmatan bisa menjadi peringatan.
Dan barangkali, yang paling perlu ditakuti bukanlah ketika hidup terasa sulit, melainkan ketika hidup terasa mudah, sementara jiwa perlahan menjauh tanpa kita sadari.
*Penulis adalah Dosen STIE Pancasetia Banjarmasin
