Soto Banjar Rasa yang Mengalir dari Sungai
Foto Ilustrasi - Penulis bersama wisatawan sedang menikmati soto Banjar di bantaran Sungai Martapura. (Foto - Risanta).
Oleh : Abdul Munir
Sungai selalu punya cara untuk mengingat. Ia tidak menulis sejarah di atas kertas, tetapi menyimpannya dalam arus. Ia membawa suara dayung, percakapan yang terputus angin, dan aroma dapur yang mengepul dari perahu-perahu kecil.
Di Banjarmasin, sungai tidak hanya menjadi jalan, tetapi juga menjadi dapur. Dan dari dapur yang mengapung itulah, Soto Banjar menemukan takdirnya.
Saya pertama kali mengenal Soto Banjar bukan dari meja makan, melainkan dari sungai. Saat itu saya masih kanak-kanak. Setiap pagi, jukung-jukung melintas di Sungai Kuin, Banjarmasin bergerak perlahan seperti makhluk hidup yang mengerti arah pulang.
Di salah satunya, seorang lelaki duduk di depan tungku kecil. Asap tipis naik ke udara, membawa aroma yang belum saya pahami, tetapi selalu berhasil membuat perut terasa kosong. Itulah soto.
Bukan makanan yang mudah dijangkau saat itu. Ia bukan santapan harian bagi semua orang. Soto adalah kemewahan kecil yang hanya sesekali singgah dalam kehidupan sederhana masyarakat sungai. Namun justru karena itulah, ia menjadi istimewa. Ia tidak hadir setiap hari, tetapi selalu diingat.

Soto Banjar sendiri merunut jejaknya, lahir dari peradaban air. makanan ini tidak tumbuh di jalan raya, tetapi di tepian sungai. Ia tidak dibentuk oleh dapur restoran, tetapi oleh dapur-dapur kecil yang terapung.
Sejarah mencatat, setelah melemahnya pusat kekuasaan Kesultanan Banjar, kehidupan masyarakat berkembang mengikuti aliran sungai. Kawasan Kuin, yang kini dikenal sebagai tempat berdirinya Masjid Sultan Suriansyah, menjadi salah satu titik penting. Konon ceritanya dari sanalah kehidupan baru bertunas,termasuk tradisi kuliner yang kelak menjadi identitas.
Sungai bukan hanya jalur transportasi. Sungai di Banua kami ini adalah ruang sosial, ruang ekonomi, dan ruang budaya. Orang berdagang di atas air. Orang berbincang di atas air. Dan orang memasak di atas air.
Soto Banjar adalah anak dari kebudayaan itu.
Kaldu beningnya mencerminkan kesederhanaan. Namun di balik kejernihan itu, tersembunyi kompleksitas rasa,kayu manis, cengkeh, pala. Rempah-rempah yang datang dari jalur perdagangan jauh, yang pernah singgah di pelabuhan-pelabuhan Kalimantan Selatan.
Soto Banjar, dengan demikian, bukan hanya makanan lokal. Ia adalah pertemuan dunia dalam semangkuk kuah.
Waktu bergerak. Sungai tetap mengalir begitu sejarah tersibak dari deburan air sungai. Perahu-perahu penjual soto perlahan menghilang, digantikan oleh warung-warung di daratan. Namun semangatnya tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berubah bentuk.
Kini orang menikmati Soto Banjar di tepian Sungai Martapura, duduk di bangku kayu, memandangi air yang memantulkan cahaya langit. Mereka datang bukan hanya untuk makan, tetapi untuk merasakan sesuatu yang lebih dalam,hubungan dengan masa lalu.Romantisme masa lalu memang indah, kata teman saya Jurnalis Senior CNN Indonesia, Muhammad Risanta.
Soto Banjar hari ini adalah jembatan. Sejatinya kuliner kebanggaan Urang Banjar menghubungkan generasi yang berbeda. Ia menghubungkan kehidupan sungai dengan kehidupan kota. Ia menghubungkan ingatan dengan kenyataan.
Ketika sendok menyentuh kuah, yang terasa bukan hanya rasa. Yang terasa adalah perjalanan panjang, sebuah perjalanan budaya, perjalanan sejarah, perjalanan manusia.
Barangkali itulah kekuatan sejati Soto Banjar. Saya tidak memaksa untuk diingat. Karena sejatinya ia hanya hadir, sederhana, seperti sungai. Namun justru dalam kesederhanaannya, ia menjadi abadi.
Sungai terus mengalir. Waktu terus bergerak. Kota terus berubah. Namun selama masih ada semangkuk Soto Banjar yang mengepul di tepian sungai, selama itu pula sejarah akan tetap hidup, tidak dalam buku, tetapi dalam rasa.
Dan rasa, seperti sungai, tidak pernah benar-benar pergi.Gurihnya Soto Banjar di tepi sungai Martapura.
*Penulis adalah Budayawan dan Dosen STIE Pancasetia.
