Ramadan, Tadarusan, dan Wajah ImanYang Hidup di Indonesia
Foto Ilustrasi - Penulis sedang mengikuti Tadarus Quran di sebuah masjid. (Foto - Risanta).
Oleh : Hasdi Suryadi
Setiap tahun, umat Islam menyambut datangnya Ramadan dengan penuh suka cita. Di negeri dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Ramadan bukan sekadar kewajiban individual, melainkan peristiwa sosial-keagamaan yang mengubah denyut kehidupan.
Kota-kota melambat di siang hari, masjid dan musala hidup di malam hari, dan semangat berbagi terasa lebih nyata dalam keseharian masyarakat.
Landasan teologis Ramadan termaktub jelas dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Baqarah ayat 183, yang menegaskan kewajiban berpuasa bagi orang-orang beriman agar mencapai ketakwaan.
Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan spiritual, mengendalikan diri, membersihkan hati, dan menumbuhkan empati sosial. Di Indonesia, nilai-nilai itu tidak berhenti sebagai konsep normatif, tetapi menjelma dalam tradisi yang hidup dan mengakar.
Salah satu tradisi paling kuat adalah tadarusan Al-Qur’an. Berasal dari kata Arab tadārus,yang berarti saling mempelajari atau membaca secara bergiliran, tadarusan menjadi denyut malam Ramadan.
Selepas salat tarawih, anak-anak, remaja, hingga orang tua duduk melingkar di serambi masjid. Ayat demi ayat dibaca bergantian, disimak bersama, diluruskan tajwidnya, dan dihayati maknanya.
Di berbagai daerah, termasuk Banjarmasin dan kota-kota lain yang mayoritas Muslim, tadarusan bukan sekadar aktivitas ibadah, tetapi juga ruang interaksi lintas generasi.
Pengeras suara masjid memancarkan lantunan ayat suci yang menggema ke penjuru kampung. Suara itu menghadirkan ketenangan batin, sekaligus menjadi penanda bahwa syiar Islam sedang hidup sepenuhnya.
Tidak sedikit masjid menargetkan khatam Al-Qur’an satu hingga beberapa kali selama bulan suci. Remaja masjid dan takmir menyusun pembagian juz secara terstruktur, memastikan setiap bagian dibaca tepat waktu.
Disiplin kolektif ini melatih tanggung jawab, konsistensi, dan kerja sama. Ramadan menjadi sekolah sosial tempat nilai spiritual dan etika sosial bertemu dalam praktik nyata.
Di era digital, tadarusan bahkan menemukan bentuk baru. Kelompok baca daring menghubungkan jamaah dari berbagai kota dan negara. Teknologi tidak mengikis tradisi, justru memperluas jangkauannya. Al-Qur’an tetap menjadi pusat, medium saja yang berubah.
Secara sosiologis, tadarusan memperkuat kohesi sosial. Warga yang mungkin jarang berinteraksi di luar Ramadan menjadi lebih akrab karena pertemuan rutin di masjid. Anak-anak belajar adab dan keberanian membaca di depan umum.
Remaja menemukan ruang aktualisasi diri. Orang tua mengambil peran sebagai pembimbing dan penjaga tradisi. Ramadan pun menjadi madrasah kehidupan, tempat nilai iman, disiplin, dan solidaritas dipupuk bersama.
Lebih dari sekadar tradisi, tadarusan adalah refleksi kecintaan umat terhadap Al-Qur’an. Di tengah ritme modernitas yang serba cepat, Ramadan menghadirkan jeda spiritual. Malam-malam yang dipenuhi lantunan ayat suci menjadi pengingat bahwa hidup tidak hanya tentang target duniawi, tetapi juga perjalanan menuju kedekatan dengan Sang Pencipta.
Pada akhirnya, Ramadan di Indonesia bukan hanya ritual tahunan. Ia adalah perayaan iman yang berdenyut dalam budaya. Tradisi tadarusan membuktikan bahwa agama dan kearifan lokal dapat berjalan beriringan, saling menguatkan, bukan saling menegasikan.
Ketika gema Al-Qur’an terus berkumandang dari masjid ke masjid, dari kampung ke kota, di sanalah kita menemukan wajah Ramadan yang hangat, inklusif, dan penuh harapan.
*Penulis adalah Dosen STIE Pancasetia & Akuntan Publik
