Jejak Teh Tarik Menjadi Ikon Ramadan

0
TEH TARIK

Foto Ilustrasi - Seorang pengunjung menyaksikan dari dekat atraksi bikin teh tarik di sebuah hotel berbintang di Banjarmasin. (Foto - Fikri Husaini).

Aroma teh hangat berpadu susu menguar dari gelas tinggi yang baru saja dituang dengan gerakan khas,ditarik tinggi lalu dikembalikan ke wadah semula.

Buih lembut terbentuk di permukaan, menjadi penanda bahwa Teh Tarik siap disajikan. Di banyak tempat, minuman ini kini tak sekadar pelepas dahaga, melainkan bagian dari ritual berbuka puasa, tak terkecuali di Banjarmasin dan kota-kota lainnya.

Teh Tarik telah menjelma menjadi salah satu minuman ikonik Ramadan di Asia Tenggara. Popularitasnya melampaui batas negara asalnya, Malaysia, dan menemukan tempat istimewa di hati penikmat kuliner Indonesia.

Warisan Pedagang India di Tanah Melayu

Sejarah Teh Tarik berakar pada awal abad ke-20, ketika para imigran India datang ke Semenanjung Malaya untuk bekerja di sektor perkebunan dan perdagangan. Mereka membuka kedai makan sederhana yang dikenal sebagai mamak stall, tempat berkumpulnya pekerja dan masyarakat lokal.

Di kedai-kedai inilah Teh Tarik lahir. Para peracik teh menggabungkan teh hitam pekat dengan susu kental manis, lalu menuangkannya berulang kali dari satu gelas logam ke gelas lainnya dalam posisi tinggi.

Teknik “menarik” ini bukan sekadar atraksi visual. Gerakan tersebut mendinginkan teh, mencampurkan bahan secara merata, sekaligus menciptakan lapisan busa lembut di atasnya.

Seiring waktu, Teh Tarik menjadi minuman lintas kelas sosial.Minuman ini dikonsumsi pekerja, keluarga, hingga kalangan profesional. Ia bahkan disebut sebagai minuman nasional tidak resmi Malaysia, simbol keseharian dan kebersamaan.

 

Teh tarik mencerminkan keberagaman Malaysia dalam satu gelas dan telah lama membantu menyatukan bangsa yang beragam itu.

Masuk ke Indonesia Sejak Era 1980-an

Di Indonesia, Teh Tarik mulai dikenal secara terbatas pada 1980-an, terutama di wilayah dengan kedekatan budaya Melayu seperti Sumatera dan Kepulauan Riau. Mobilitas pekerja, pedagang, dan wisatawan antara Indonesia dan Malaysia menjadi jalur alami penyebaran minuman ini.

Namun, popularitas Teh Tarik meningkat signifikan pada awal 2000-an, seiring menjamurnya restoran dan kafe bertema Malaysia di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, dan Batam termasuk Banjarmasin. Kehadiran pusat perbelanjaan modern dan berkembangnya industri kuliner turut mempercepat adopsi minuman ini.

Perkembangan media sosial pada dekade berikutnya semakin memperluas jangkauan Teh Tarik. Visual proses “menarik” teh yang dramatis menjadi daya tarik tersendiri, memperkenalkan minuman ini kepada generasi muda.

Menjadi Ikon Berbuka Puasa

Dalam konteks Ramadan, Teh Tarik menemukan momentum alaminya. Kandungan gula dan susu membantu tubuh memulihkan energi setelah berpuasa, sementara suhu hangatnya memberikan efek relaksasi pada tubuh.

Pramono, Ahli gizi menjelaskan, setelah berjam-jam tanpa asupan cairan dan energi, tubuh membutuhkan kombinasi cairan, gula, dan kalori ringan untuk pemulihan awal. Teh Tarik memenuhi kebutuhan tersebut, terutama bila dikonsumsi dalam jumlah moderat.

 

Foto Ilustrasi -Teh Tarik yang menggugah selera untuk tamu,meinikmati pas panas dan hangat.

Selain faktor nutrisi, aspek emosional juga memainkan peran penting. Teh Tarik identik dengan kebersamaan, karena disajikan di meja keluarga, restoran, hingga hotel yang menawarkan paket berbuka puasa.

Di berbagai kota Indonesia, Teh Tarik kini menjadi menu tetap dalam sajian iftar, bersanding dengan kurma, kolak, dan gorengan. Kehadirannya mencerminkan pertemuan budaya yang harmonis, di mana tradisi lintas negara menyatu dalam pengalaman berbuka.

Tahukah kita hari ini, Teh Tarik tidak lagi sekadar minuman impor. Ia telah beradaptasi dengan selera lokal, hadir dalam berbagai varian,mulai dari versi panas klasik hingga Teh Tarik dingin dan modern dengan tambahan rasa.

Namun, esensinya tetap sama, sebuah minuman sederhana yang lahir dari tangan pekerja, berkembang menjadi simbol budaya, dan kini menjadi bagian dari tradisi Ramadan di Indonesia.

Setiap tegukan Teh Tarik bukan hanya menawarkan rasa manis dan hangat, tetapi juga membawa cerita panjang tentang migrasi, pertemuan budaya, dan kebersamaan,nilai-nilai yang sejalan dengan makna Ramadan itu sendiri.(Fikri Husaini).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!