Bahasa Banjar, Warisan Tutur dari Masa ke Masa
Penulis (tengah) berdiskusi ringan dalam bahasa Banjar dengan dua mahasiswa di kampus STIE Pancasetia. (Foto - Risanta).
Oleh : Abdul Munir
Syahdan, bahasa Banjar tidak lahir dari satu zaman, melainkan tumbuh perlahan bersama perjalanan manusia di Banua. Ia mengalir sebagaimana sungai-sungai besar di Kalimantan Selatan, yang menerima, menyaring, lalu menyatu.
Bahasa ini berakar dari perjumpaan penduduk asli Dayak Maanyan dengan gelombang Melayu yang datang melalui jalur sungai dan perdagangan, jauh sebelum negara modern bernama Indonesia dikenal.
Sejumlah kajian linguistik menyebutkan bahwa bahasa Banjar merupakan turunan dari rumpun Austronesia, dengan lapisan kosakata tua dari Dayak Maanyan yang kemudian diperkaya oleh Melayu Kuno. Proses itu semakin kuat sejak berdirinya Kerajaan Negara Dipa pada abad ke-14 dan dilanjutkan oleh Kerajaan Banjar pada abad ke-16.
Masuknya Islam membawa pengaruh Arab, sementara hubungan politik dan budaya dengan Jawa ikut membentuk struktur tutur dan kosakata. Dari sanalah bahasa Banjar menemukan bentuknya yang khas, dekat dengan Melayu, tetapi tak pernah benar-benar sama.
Salah satu ciri paling menonjol dari bahasa Banjar tempo dulu adalah kekayaan bunyi melalui pengulangan suku kata. Reduplikasi bukan sekadar gaya bahasa, melainkan cara orang Banjar memberi rasa pada kata.
Fenomena ini terlihat jelas pada penamaan kue-kue Banjar yang konon berjumlah lebih dari 40 jenis, dengan cita rasa manis lejit dan biasanya hadir meramaikan bulan Ramadan.
Nama-nama seperti bobongko, kokoleh, kelalapon, gogodoh, gagati, gagauk, gagapam, gagicak, lalampar, sosogon, pupudak, pupundut, susumapan, cacapan, dan papakin bukan hanya sebutan makanan.
Ini adalah memori kolektif tentang dapur, kebersamaan, dan ritus tahunan yang diwariskan lintas generasi. Bunyi yang berulang menciptakan keakraban, seolah kata itu mengajak orang untuk mengenang sebelum mencicipi.
Reduplikasi juga hidup dalam kosakata keseharian masyarakat Banjar lawas. Kata-kata seperti gagawaian, kada gagampangan, tatambayan, bahihinipan, batutuhaan, bagigimitan, kada kakayanya, batuturuk, badadapatan, balolocoan, cucubaan, eencaan, kahihimungan, kalalakasan, hingga rarawaian mencerminkan cara pandang hidup orang Banjar: sabar, berhitung, dan penuh pertimbangan.
Dalam perspektif antropologi bahasa, kosakata semacam ini tidak hanya menjelaskan peristiwa, tetapi juga menyiratkan nilai. Kada gagampangan mengajarkan kehati-hatian, batutuhaan menggambarkan daya tahan menghadapi keadaan, sementara bagigimitan menandai kesungguhan yang pelan namun pasti. Bahasa menjadi medium etika sosial, bukan sekadar alat komunikasi.
Namun, perjalanan waktu membawa perubahan. Generasi Milenial dan Z hari ini nyaris tak mengenal lagi perbendaharaan kata tersebut, apalagi menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.
Kamus mereka dipenuhi istilah baru yang singkat, cepat, dan global. Bahasa Banjar pun sering dipadatkan, disederhanakan, bahkan digeser ke pinggir. Yang tersisa hanyalah fragmen-fragmen tutur di kampung, pasar tradisional, atau cerita lisan orang tua yang kian jarang terdengar.
Para ahli bahasa mengingatkan, hilangnya kosakata lama bukan sekadar kehilangan kata, melainkan hilangnya cara berpikir. Bahasa Banjar tempo dulu menyimpan jejak kehidupan sungai, ladang, pasar, dan langgar, ia merekam etos masyarakat agraris-maritim yang hidup dalam kebersamaan dan kesabaran.
Menulis dan menyebut kembali bahasa Banjar lawas hari ini bukan semata nostalgia. Ia adalah upaya merawat warisan. Sebab bahasa, seperti Banua itu sendiri, hidup selama ia dituturkan dan diingat. Ketika kata-kata lama masih disebut, maka ingatan kolektif tetap bernapas. Dan di sanalah bahasa Banjar terus berjalan dari masa ke masa, dari lidah ke lidah, menjaga identitas sebuah tanah bernama Banua.

