Menyambut Desember dengan Kesiapsiagaan Menyeluruh

0
HUJAN DESEMBER

Karikatur Ilustrasi - Kesiap-siagaan Warga Kalsel menyambut musim hujan di bulan Desember 2025. (Foto - Tim Redaksi).

Desember selalu datang dengan wajah yang sama setiap tahun bagi Kalimantan Selatan. Hujan yang mengguyur dari pagi hingga malam, langit yang sering mendung, sungai yang meninggi, dan kabupaten kota yang masuk dalam siklus waspada banjir.

Tahun ini BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan memperkirakan curah hujan berada pada rentang dua ratus hingga empat ratus milimeter. Angka tersebut menempatkan sebagian besar wilayah provinsi ini dalam kategori hujan menengah hingga tinggi.

Prediksi ini bukan sekadar data meteorologis. Ia adalah peringatan dini yang harus dibaca dengan serius. Wilayah seperti Balangan Banjar Barito Kuala Hulu Sungai Selatan Hulu Sungai Tengah Hulu Sungai Utara Tabalong Tanah Bumbu Tanah Laut Tapin Banjarbaru dan Banjarmasin masuk dalam zona hujan intensif.

Sementara beberapa titik di Tanah Laut Kotabaru dan Tanah Bumbu diperkirakan menerima curah hujan lebih rendah di kisaran seratus lima puluh hingga dua ratus milimeter. Meskipun sifat hujan pada Desember dinyatakan Normal, Normal di Kalimantan Selatan tetap berarti intens.

Setiap tahun sejarah mencatat peristiwa yang hampir sama. Sungai yang meluap. Drainase yang tidak sanggup menampung aliran limpasan. Longsor di lereng Meratus yang muncul setelah tanah jenuh air. Dan genangan cepat di kawasan padat penduduk yang semakin sensitif akibat berkurangnya ruang resapan.

Normalisasi hujan tidak berarti normalisasi keamanan. Justru pada fase seperti sekarang, risiko bencana hidrometeorologi meningkat dengan cepat.

Data tren lima tahun terakhir menunjukkan pola konsisten. Periode Desember hingga Januari menempati posisi puncak dalam laporan kejadian banjir dan tanah longsor. Kalimantan Selatan mengalami 20 hingga 30 kejadian banjir per musim hujan dan lima hingga sepuluh kejadian longsor dalam periode yang sama.

Di Banjarmasin misalnya sejumlah titik genangan dapat terbentuk hanya dalam kurun waktu satu hingga dua jam hujan intensitas tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa curah hujan ekstrem bukan satu satunya penyebab. Sistem drainase yang tidak optimal dan perubahan penggunaan lahan turut memperbesar risiko.

Karena itu langkah mitigasi tidak bisa menunggu. Pemerintah daerah memiliki ruang gerak strategis untuk mempersiapkan diri. Pemeriksaan saluran drainase utama dan sekunder harus diprioritaskan. Kanal air dan sungai kecil yang selama ini tersumbat sedimentasi perlu dibersihkan agar air mengalir tanpa hambatan.

Relawan kebencanaan dan perangkat desa harus berada dalam satu jalur koordinasi agar informasi dari BMKG langsung diterjemahkan menjadi tindakan lapangan.

Kesiapsiagaan masyarakat juga memegang peranan penting. Warga yang tinggal di bantaran sungai perlu memeriksa posisi barang penting dan memastikan jalur evakuasi keluarga.

Penghuni kawasan rawan longsor perlu memperhatikan tanda tanda alam seperti retakan tanah perubahan aliran air kecil di sekitar rumah serta pergerakan tanah meski minimal. Di kawasan perkotaan masyarakat dapat berperan melalui langkah sederhana seperti memastikan saluran air rumah tidak tersumbat sampah.

Desember adalah musim yang tidak bisa dihindari. Tetapi dampaknya dapat dikelola. Kesiapsiagaan harus menjadi budaya yang tumbuh tidak hanya di instansi teknis tetapi juga di lingkungan rumah tangga.

Dalam konteks provinsi yang memiliki topografi beragam seperti Kalimantan Selatan, kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas lokal, dan warga menjadi penentu keberhasilan mitigasi bencana.

Prediksi curah hujan BMKG bukan sekadar ramalan musim. Ia adalah ajakan untuk bersiap menghadapi kenyataan tahunan. Kesempatan untuk memperkuat ketahanan daerah terhadap risiko cuaca ekstrem.

Dengan langkah yang tepat, respons yang cepat, dan kesadaran kolektif yang tinggi Kalimantan Selatan dapat melewati bulan Desember dengan lebih aman.

Musim hujan akan terus datang. Tetapi kesiapan kita dapat ditingkatkan. Dan pada akhirnya kesiapsiagaan itulah yang menentukan apakah hujan menjadi ancaman atau menjadi bagian dari ritme alam yang dapat kita kendalikan.

Dengan kesadaran penuh dan kerja sama yang kuat kita menyambut Desember dengan kesiapsiagaan menyeluruh.(Tim Redaksi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!