Jumpa-Jumpa Lagi Bersama Borneo Dusta TV !
Rahmani - warganet Kalsel mengenalnya dengan panggilan yang unik dan melekat di ingatan Borneo Dusta TV.(Foto -Dok Pribadi Borneo Dusta TV).
Kisah Rahmani, Pengabdi Informasi dari Sudut Kota Banjarmasin
Di tengah derasnya arus informasi dan banjir konten digital yang silih berganti, ada satu sosok sederhana di Banjarmasin yang konsisten hadir membawa kabar. Bukan jurnalis, bukan reporter televisi, bukan pula selebritas media sosial.
Ia hanyalah seorang pria pensiunan yang memilih menghabiskan masa tuanya dengan sesuatu yang ia anggap paling bermakna: berbagi informasi kepada masyarakat. Namanya Rahmani, tetapi warganet Kalsel mengenalnya dengan panggilan yang unik dan melekat di ingatan Borneo Dusta TV.
Nama itu mungkin terdengar jenaka, bahkan ironis, tetapi di baliknya ada sosok yang justru berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyebarkan dusta. Ia mengabarkan apa yang ia lihat, ia rekam, dan ia pahami langsung di lapangan. Rahmani selalu menekankan bahwa dirinya bukan wartawan dan memang bukan. Tapi semangatnya untuk menghadirkan informasi yang berguna jauh lebih tulus dari sebatas profesi.

Sinyal, Kamera Ponsel, dan Cincin Batu Jamrud Merah
Setiap kali tayang, ada satu ciri khas yang membuat pemirsa langsung tahu bahwa itu adalah Rahmani. Cincin batu jamrud merah yang ia kenakan. Dalam banyak video, cincin itu ikut tertangkap kamera ketika tangannya bergerak saat ia menunjuk arah kebakaran, memperlihatkan kondisi jalan berlubang, atau sekadar memegang ponsel sambil memberi komentar jenaka namun informatif.
Cincin itu bukan gaya. Bagi Rahmani, itu adalah pengingat,bahwa apa pun yang dilaporkannya harus memberi manfaat. Ia selalu bilang bahwa cincin itu semacam “teman bicara”, benda kecil yang mengingatkan bahwa setiap informasi adalah amanah.
Dengan ponsel sederhana, sinyal internet yang terkadang naik turun, serta keberaniannya mendatangi lokasi kejadian, Rahmani meliput apa saja. Kebakaran di sudut kampung. Jalan berlubang yang membahayakan pengendara. Acara-acara komunitas. Event olahraga kecil hingga pertandingan lokal. Semua ia rekam tanpa skenario dan tanpa editing rumit.
Bukan Jurnalis, Tapi Mengabdi Layaknya Jurnalis
Rahmani tidak pernah mengaku sebagai jurnalis. Bahkan ia sering menertawakan dirinya sendiri soal itu. Namun masyarakat tahu,apa yang ia lakukan sangat mirip dengan kerja-kerja jurnalistik lapangan.
Perbedaannya, Rahmani tidak bekerja karena tugas. Ia bekerja karena panggilan hati.
Ia menyadari bahwa tidak semua kejadian bisa disorot media. Tidak semua persoalan masyarakat muncul di layar televisi. Maka ia hadir sebagai suara alternatif. Sebagai mata tambahan. Sebagai warga yang peduli terhadap lingkungannya.
Ketika ia melaporkan jalan rusak, tujuannya sederhana. Ia ingin pihak berwenang melihatnya. Ketika ia menyiarkan kebakaran, ia ingin warga berhati-hati dan tahu apa yang sedang terjadi. Ketika ia mengabarkan acara komunitas, ia ingin semangat kebersamaan tidak tenggelam oleh isu-isu besar.
Dalam setiap videonya, ia selalu membuka dengan tagline yang membuat warganet tersenyum “Jumpa-jumpa lagi bersama Borneo Dusta TV”. Sebuah kalimat singkat yang entah bagaimana, terasa dekat dengan siapa pun yang mendengarnya.

Dari Hobi Menjadi Dedikasi
Apa yang dilakukan Rahmani tidak menghasilkan uang. Tidak ada sponsor. Tidak ada honor. Yang ia dapatkan hanyalah ucapan terima kasih, jempol biru, atau komentar dukungan dari warga Banjarmasin dan Kalsel yang mengenalnya. Tetapi baginya, itu sudah lebih dari cukup.
Pada masa pensiunnya sebagai seorang sekurity, saat banyak orang memilih beristirahat, ia justru memilih turun ke jalan. Mengabadikan peristiwa, menulis dengan lisan, dan menyebarkannya agar orang lain tahu. Ini bukan sekadar hobi. Ini dedikasi.
Dan di saat orang lain berlomba-lomba membuat konten sensasional, Rahmani justru tampil apa adanya. Tidak dramatis. Tidak dibuat-buat. Tidak mengejar viral. Ia hanya ingin bermanfaat.
Kontribusi Rahmani mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah. Tidak pula masuk dalam penghargaan resmi bidang komunikasi. Namun masyarakat tahu perannya penting. Ia menjadi jembatan antara warga dan kondisi lapangan. Ia adalah orang pertama yang sering kali hadir sebelum media besar tiba. Ia adalah suara warga, rekam jejak kecil tentang apa yang terjadi di lingkungan mereka.
Dalam dunia yang semakin kompleks, kehadirannya justru menghadirkan kesederhanaan. Kejujuran. Otentisitas. Nilai-nilai yang sering hilang dalam kompetisi konten digital.(Risanta).
