Batola Tekan Stunting Lewat Kolaborasi Pendidikan
Wakil Bupati Barito Kuala, Herman Susilo. (Foto - Dok Diskominfo Batola).
Pemerintah Kabupaten Barito Kuala (Batola) mengambil langkah sistematis dalam menekan angka stunting di wilayahnya dengan mengandalkan data dunia pendidikan dan pendekatan lintas-sektor.
Hal ini ditegaskan oleh Wakil Bupati Batola, Herman Susilo, yang menekankan bahwa kolaborasi antar lembaga, termasuk sekolah, puskesmas, dan program keluarga harapan, menjadi kunci keberhasilan.
“Upaya penurunan stunting memerlukan kolaborasi dan kepedulian bersama dari semua pihak,” katanya saat berbicara di acara Deseminasi Hasil Analisis Kinerja Sekolah (AKS) dan Audit Stunting II, di Hotel Rodhita Banjarmasin, Rabu (15/10/2025).
Menurut data yang dipaparkan, prevalensi stunting di Kabupaten Barito Kuala turun signifikan dari 33,6 % pada tahun 2022 menjadi 15,9 % pada tahun 2023. Bahkan, berdasarkan hasil pencatatan elektronik (e-PPGBM) pada Januari 2024, angka stunting tercatat berada pada 10,39 %.
Herman Susilo menyebutkan bahwa hingga awal 2025 terdapat sekitar 1.340 anak yang teridentifikasi berisiko mengalami stunting di Kabupaten Batola. rogram yang digulirkan meliputi pengukuran balita, pendataan di sekolah dan posyandu, edukasi gizi ibu hamil, serta pelibatan dunia usaha dan lembaga pendidikan. Data akurat yang diperoleh dari sekolah dan posyandu menjadi pijakan untuk memetakan intervensi secara tepat sasaran.
“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Dunia pendidikan, puskesmas, desa, dan sektor swasta harus bersinergi agar anak-anak kita tumbuh sehat dan bangsa kita punya generasi berkualitas,” ujar Wakil Bupati.
Ia menambahkan bahwa data dari sekolah seperti kondisi pertumbuhan anak, gizi, serta kunjungan ke posyandu sangat berperan dalam strategi penurunan angka stunting.
Salah satu strategi utama adalah memperkuat 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), memastikan ibu hamil mendapatkan pemantauan gizi, dan balita menjalani pengukuran tumbuh-kembang rutin. Pemkab Batola juga meningkatkan peran tim relawan dan satgas stunting di desa-kelurahan sebagai ujung tombak intervensi.
Meski capaian penurunan angka sangat menggembirakan, Pemkab Batola tetap waspada bahwa masih ada kelompok yang belum terjangkau. (Olpah Sari/Adv)
