Sekolah Garuda dan Harapan Baru dari Banua

0
SEKOLAH GARUDA UTAMA SEKALI

Teuku Riefky Harsya, Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) bersama keluarga besar Sekolah Garuda Transformasi di Kalsel. (Foto - Koleksi Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif).

Ada sebuah keyakinan lama yang selalu hidup di tengah masyarakat Banua, bahwa pendidikan bukan sekadar jalan menuju masa depan, melainkan cahaya yang menuntun arah peradaban.

Keyakinan itu seolah menemukan bentuknya kembali saat Sekolah Garuda Transformasi resmi berdiri di SMAN Banua, Banjarmasin, pada Rabu, 8 Oktober 2025.

Peresmian ini bukan sekadar seremoni pendidikan.Dari Perspekstif redaksi kami, Ia adalah simbol perubahan. Sebuah janji yang ingin ditepati oleh bangsa besar bahwa setiap anak Indonesia, di mana pun ia lahir, berhak bermimpi setinggi langit dan diberi ruang untuk mencapainya.

Dalam sambutan video yang ditayangkan di tengah upacara, Presiden Prabowo Subianto berbicara dengan nada yang tegas tapi berisi harapan. “Sekolah Garuda akan menjadi harapan baru bagi pendidikan unggul Indonesia, untuk menjawab tantangan ketertinggalan kita di bidang sains dan teknologi.”

Kata-kata itu menggema di halaman sekolah, di antara wajah-wajah muda yang memandang ke depan dengan mata berkilat. Dari 284 juta penduduk Indonesia, hanya sekitar 62.800 pelajar yang saat ini menempuh pendidikan di luar negeri. Sungguh angka yang masih jauh tertinggal dibanding Tiongkok, India, bahkan Nigeria.

 

Ketika lahirnya Sekolah Garuda Transformasi, ini adalah langkah konkret untuk mengejar ketertinggalan itu. Pemerintah menargetkan 80 sekolah transformasi dan 20 sekolah baru yang akan tuntas dibangun pada 2029. Sebuah upaya besar yang dirancang untuk melahirkan generasi pemimpin dan pemikir masa depan, tentu mereka yang siap menembus universitas kelas dunia tanpa kehilangan akar lokalnya.

Namun di balik megahnya angka dan target, yang paling terasa di Banjarmasin hari itu bukanlah formalitas, melainkan semangat.
Teuku Riefky Harsya, Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) yang hadir mewakili Presiden, tidak sekadar berbicara di podium. Ia berbagi kisah. Tentang masa mudanya di SMA Negeri 6 Jakarta, tentang disiplin yang ia pelajari di pendidikan militer luar negeri, dan tentang keyakinan bahwa pendidikan yang baik bukan hanya soal fasilitas, tetapi soal nilai dan keteladanan.

“Teruslah berinovasi, berkreasi, dan percaya diri. Presiden Prabowo menginginkan putra-putri terbaik Banua menjadi kader bangsa yang unggul dan tangguh —.bukan hanya di level nasional, tapi juga global,” pesannya yang disambut tepuk tangan para siswa.

Bagi banyak pelajar di Banua, kata-kata itu lebih dari sekadar motivasi. Ia adalah pembuka pintu harapan.Setidaknya yang diungkapkan salah satu siswa sekolah ini yang bermimpi menjadi ilmuwan teknologi pangan.

“Sekolah Garuda membuat kami percaya, anak Banua juga bisa bersaing di panggung dunia.”

 

Di ruang guru, suasana tak kalah bergetar. Tommy Prabowo, guru Bahasa Inggris di sekolah itu, menyebut penetapan SMAN Banua sebagai Sekolah Garuda sebagai sebuah amanah besar.

“Di pundak para Guru Garuda, terpikul tanggung jawab untuk melahirkan generasi adaptif, kreatif, dan berkarakter. Kami ingin membangun Indonesia dari bumi Kalimantan Selatan,” ujarnya dengan mata berbinar.

Bagi para pendidik, program ini bukan hanya tentang pembaruan kurikulum atau sarana, melainkan tentang cara baru memandang masa depan pendidikan, yang lebih inklusif, berbasis karakter, dan berorientasi global tanpa melupakan akar budaya daerah.

Hari itu, Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin dan Wakil Gubernur Hasnuryadi Sulaiman turut hadir, bersama jajaran pejabat pemerintah pusat dan daerah. Namun yang paling kuat terasa di udara bukanlah formalitas protokol, melainkan semangat gotong royong pendidikan.

Sekolah Garuda Banua menjadi simbol bahwa transformasi pendidikan tidak harus dimulai dari ibu kota. Ia bisa tumbuh dari tanah Banua,  dari ruang kelas sederhana yang penuh cita-cita, dari tangan-tangan guru yang sabar, dan dari keberanian anak-anak daerah untuk bermimpi lebih tinggi.

Ketika acara usai, bendera Sekolah Garuda dikibarkan tinggi, berdampingan dengan Merah Putih. Angin sore membawa pesan yang sederhana tapi bermakna,
Bahwa Indonesia Emas 2045 bukan hanya visi di atas kertas. Ia sedang dipersiapkan,  hari demi hari, sekolah demi sekolah, anak demi anak,dari seluruh penjuru negeri.

Dan dari Banua, langkah kecil itu kini sudah dimulai.(Redaksi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!