Mau Dibawa ke Mana Tour Guide Kita?

0
PHPI 1

Para Tour Guide Kalsel yang tergabung dalam PHPI Kalsel saat mengawal perjalanan rombongan wisatawan ke Pasar Terapung Lok Baintan. (Foto - Reifa HPI Kalsel).

Membangun Profesionalisme Pramuwisata Daerah

 Oleh : Ariefa Gramenia

Di tengah geliat pariwisata nasional, pertanyaan ini kerap muncul. Mau dibawa ke mana tour guide kita? Pertanyaan sederhana, tetapi menyimpan makna mendalam tentang arah, kualitas, dan masa depan profesi pramuwisata,khususnya di Kalimantan Selatan (Kalsel).

Selama ini, pemandu wisata sering dianggap sekadar pengantar turis. Padahal, peran mereka jauh lebih besar, pencerita budaya, penjaga nilai lokal, bahkan duta bangsa. Dari mulut seorang tour guide, wisatawan asing mengenal Indonesia, dari sikapnya, tamu memahami keramahan orang Banua. Karena itu, profesionalisme tour guide bukan hanya soal pekerjaan, melainkan juga soal marwah daerah.

Tantangan Tour Guide di Kalsel

Kalimantan Selatan itu punya modal besar,sungai yang eksotis, pasar terapung yang ikonik, budaya Banjar yang hangat, dan ragam kuliner khas seperti soto Banjar dan kue tradisional. Namun, potensi ini tidak akan sepenuhnya terangkat tanpa peran tour guide profesional.

Dalam berbagai diskusi dengan senior tour guide, penggiat pariwisata hingga sahabat kami Bang Risanta (Jurnalis Senior CNN Indonesia) saat ngopi bareng di lembah pegunungan Meratus, Kalsel, mengemukalah sejumlah tantangan yang masih membekap perjalanan tour guide.

 

Penulis bersama Kepala Badan Promosi Wisata Badung Bali Wisnu Arimbawa dan rekan seprofesi.

Beberapa tantangan yang masih dihadapi di antaranya:

Kualitas SDM , Tidak semua tour guide memiliki kemampuan bahasa asing memadai. Padahal, wisatawan mancanegara semakin banyak datang ke Kalsel melalui jalur udara maupun kapal pesiar.

Penguasaan Narasi Budaya , Sering kali pemandu wisata lebih fokus pada data faktual, tetapi kurang membangun narasi yang hidup dan inspiratif.

Sertifikasi dan Standar Profesi , Belum semua tour guide tersertifikasi secara resmi oleh lembaga berwenang, sehingga kualitas layanan tidak seragam.

Kesejahteraan dan Karier – Profesi tour guide masih dianggap kerja sambilan, bukan profesi yang bisa menopang masa depan.

Peran Strategis Perkumpulan Himpunan Pramuwisata Indonesia (PHPI) Kalsel

Di sinilah Perkumpulan Himpunan Pramuwisata Indonesia (PHPI) Kalsel berusaha menciptakan formulasi dan program nyata. Mereka memahami bahwa tour guide yang hebat lahir dari kombinasi antara passion, keterampilan, dan dukungan kelembagaan.

Beberapa upaya strategis yang bisa menjadi pijakan antara lain:

Pelatihan Bahasa Asing dan Digital: Tour guide Kalsel perlu dibekali kemampuan bahasa asing (Inggris, Mandarin, Arab) sekaligus literasi digital untuk promosi wisata melalui media sosial.

Sertifikasi Profesi: Program sertifikasi nasional yang difasilitasi oleh PHPI akan menjadi standar kualitas sekaligus pengakuan resmi profesi.

Pendidikan Narasi Budaya: Tour guide harus mampu bercerita tentang filosofi sungai, sejarah Kesultanan Banjar, hingga makna di balik kuliner khas. Dengan begitu, wisatawan mendapat pengalaman mendalam, bukan sekadar tur.

Jaminan Kesejahteraan: PHPI dapat mendorong kolaborasi dengan pemerintah daerah agar tour guide memiliki skema perlindungan kerja, bahkan peluang karier jangka panjang.

 

Tim PHPI Kalsel menjelajahi kawasan destinasi alam Pulau Curiak, Batola bersama sejumlah wisatawan mancanegara.

Menjadi Tour Guide Daerah Profesional

Untuk menjadi tour guide daerah profesional, ada beberapa prinsip yang harus dipegang:

Kompetensi Bahasa , Bahasa adalah jembatan dunia. Tour guide Kalsel minimal harus menguasai bahasa Inggris aktif, serta memahami terminologi wisata internasional.

Penguasaan Konten Lokal , Pemandu yang profesional bukan hanya hafal jalur wisata, tetapi juga paham cerita rakyat, adat, seni, hingga isu lingkungan yang terkait destinasi.

Etika dan Hospitality , Sikap ramah, disiplin, dan menghormati wisatawan adalah standar tak tertulis, tetapi menentukan kualitas layanan.

Adaptasi Teknologi – Profesionalisme di era digital juga berarti mampu menggunakan aplikasi pemandu virtual, pembayaran digital, hingga promosi destinasi di media sosial.

Jika ditanya mau dibawa ke mana tour guide kita, jawabannya tergantung pada seberapa serius kita memandang profesi ini. Apakah hanya pekerjaan sementara, atau sebagai profesi mulia yang menopang ekonomi kreatif daerah?

Kalimantan Selatan punya kesempatan emas. Dengan dukungan semua pihak, pemerintah daerah, dan komunitas pariwisata, tour guide bisa bertransformasi menjadi profesi bergengsi. Mereka bukan sekadar pengantar tamu, tetapi juga storyteller budaya Banjar, penggerak ekonomi kreatif, dan wajah ramah Indonesia di mata dunia.

Pada akhirnya, masa depan tour guide kita adalah cerminan keseriusan kita membangun pariwisata yang berkelanjutan. Tour guide profesional bukan hanya aset individu, melainkan juga aset daerah dan bangsa. Karena itu, sudah saatnya profesi ini ditempatkan pada posisi yang layak, dihargai, didukung, dan terus dibina.

*Penulis adalah Ketua DPD PHPI Kalsel & Penggiat Pariwisata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!