“Ketika Krayon Berbisik” Anak Banjarmasin Melukis Harapan Kanvas Kota
Senangnya anak-anak bertemu Wali Kota Banjarmasin dan istri, serta memperlihatkan hasil karya terbaik mereka. (Foto-Tim Diskominfotik Banjarmasin).
Di balik lobi Balai Kota Banjarmasin yang biasanya khusyuk, pada pagi itu, terdengar bisikan. Bukan bisikan rahasia dari pejabat, melainkan bisikan dari krayon-krayon yang bergesekan lembut dengan kertas. Ratusan anak berbaris rapi, dengan wajah penuh fokus dan mata berbinar, siap menjadi pelukis masa depan. Inilah kisah ketika “Krayon Berbisik” saat anak-anak Banua melukis harapan di kanvas kota.
Masing-masing anak menggenggam senjata kecil mereka—krayon dengan aneka warna. Ada yang memilih merah menyala untuk jembatan, ada yang memilih biru muda untuk langit yang cerah, dan ada yang tak ragu menggunakan jingga untuk air sungai. Setiap goresan adalah sebuah keputusan, sebuah keberanian kecil untuk berekspresi. Di tengah hening yang tercipta, imajinasi mereka mengalir deras, menciptakan dunia di atas selembar kertas.
Para orang tua dan guru berdiri di belakang, tak henti-hentinya tersenyum. Mereka tak perlu berkata-kata. Melalui tatapan mereka, terpancar kebanggaan yang dalam. Lomba ini bukan tentang siapa yang karyanya paling sempurna atau paling rapi. Ia adalah panggung di mana anak-anak diajak untuk berani mencoba, untuk menemukan warna mereka sendiri, dan untuk merasakan kebahagiaan dalam setiap proses. Di sinilah mereka belajar bahwa kreativitas adalah modal yang tak ternilai, jauh lebih penting dari sekadar kemenangan.

Sentuhan lembut kanvas mereka ini pun menyentuh perasaan seorang Wali Kota Banjarmasin HM Yamin HR dan Ketua Tim Penggerak PKK Kota Banjarmasin Neli Listriani Yamin HR. Bahkan pria yang juga Ketua Ikatan Alumni STIE Pancasetia Banjarmasin tak beranjak menatap goresan ini para bocah ini.
“Yang terpenting bukan siapa yang menang atau kalah. Saya ingin anak-anak berani mencoba, percaya diri, dan bahagia. Inilah cara kita menumbuhkan generasi yang kreatif sejak dini,” tutur Yamin.
Ia menyebut lomba ini sebagai ruang belajar yang menyenangkan, di mana kreativitas dan keberanian anak-anak dapat terlihat secara alami—sebuah modal fundamental untuk masa depan.
Warna-warni yang mereka torehkan bukan hanya hiasan di atas kertas. Mereka sedang melukis Banjarmasin yang mereka impikan: kota yang penuh warna, kota yang ceria, dan kota yang damai. Dari genggaman mungil itu, lahirlah gambaran kota yang lebih dari sekadar beton dan bangunan, melainkan kota yang hidup dengan jiwa dan harapan.

“Saya bersyukur anak-anak bisa ikut berpartisipasi dalam Hari Jadi Kota Banjarmasin. Kehadiran orang tua dan guru menunjukkan betapa pentingnya dukungan bersama dalam membentuk generasi emas yang cerdas dan berkarakter,” ungkap Neli.
Ia pun memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin dan Himpaudi yang telah memfasilitasi wadah kreativitas yang luar biasa ini bagi anak-anak usia dini.
Pada akhirnya, ketika semua karya telah terkumpul dan krayon kembali beristirahat, bisikannya tetap terasa. Sebuah bisikan yang menyampaikan pesan paling tulus masa depan sebuah kota bukan dibangun dari megahnya gedung, melainkan dari keberanian dan imajinasi anak-anaknya. Dan hari itu, di lobi Balai Kota, anak-anak Banjarmasin telah menuliskannya, dengan bahasa yang paling jujur, dan dengan hati yang paling tulus.(Ridzky Husna).
