Ke Yogjakarta Banjarmasin Belajar Banyak Jaga Kestabilan Inflasi

0
YAMIN KE JOGJA UTAMA

Foto ilustrasi - Wali Kota Banjarmasin HM Yamin HR saat mengunjungi Jogja dalam upaya studi tiru dan kajian pengendalian inflasi.(Foto-Diskominfotik Banjarmasin).

Meskipun berhasil menekan angka persentasi inflasi hingga ke digit 1,98 persen, Pemerintah Kota Banjarmasin tetap berupaya keras menjaga kestabilannya. Karena sifat inflasi cenderung fluktuatif dan tingkat inflasi tidak selalu stabil dan cenderung mengalami naik turun dari waktu ke waktu. 

Langkah strategis pun terus diambil dan menguatkan persepsi serta  tujuan dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Banjarmasin. Hal ini selaras upaya mengendalikan inflasi, karena tingkat inflasi di Indonesia utamanya dipengaruhi oleh komponen harga bergejolak (volatile food) sehingga pengendalian inflasi pangan menjadi sangat penting.

Namun demikian, pengendalian inflasi pangan mempunyai sejumlah tantangan, seperti meningkatnya alih fungsi lahan pertanian, dinamika cuaca ekstrim, regenerasi petani, rendahnya akses pembiayaan petani dan nelayan, serta belum terintegrasinya data pangan secara menyeluruh.Hal ini juga memberikan dampak bagi perekonomian di perkotaan seperti halnya Banjarmasin.

Salah satu langkah strategis dilakukan Pemerintah Kota Banjarmasin adalah melakukan studi tiru ke Yogjakarta. Kegiatan dalam kemasan High Level Meeting dan Capacity Building Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Banjarmasin Tahun 2025. Fokus utama juga mengunjungi Koperasi Perkumpulan Petani Hortikultura Puncak Merapi (PPHPM) Sleman, di Yogyakarta.

 

Wali Kota Banjarmasin HM Yamin memperhatikan salah satu produk cabai yang bisa terjaga harga berkat sentuhan pengelolaan dalam sebuah koperasi. (Foto-Diskominfotik Banjarmasin).

Koperasi Perkumpulan Petani Hortikultura Puncak Merapi (PPHPM) Sleman, Yogyakarta, telah meraih beberapa prestasi, terutama dalam hal pemberdayaan petani dan peningkatan kesejahteraan mereka. Koperasi ini berhasil mengurangi ketergantungan petani pada tengkulak dengan menjual hasil panen langsung dan mendapatkan harga yang lebih adil.

Selain itu, Koperasi PPHPM juga menerapkan inovasi teknologi pertanian, seperti irigasi tetes, untuk meningkatkan hasil panen dan efisiensi. PPHPM juga menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam pengelolaan pertanian, khususnya dalam hal pemasaran hasil panen dan kesejahteraan petan

Kegiatan yang melibatkan Kepala BI Perwakilan Kalsel, Sekdako Banjarmasin, Kepala DKP3, Kepala Disperdagin, Kepala Diskominfotik, Kepala Bagian Ekonomi SDA serta stakeholder lintas sektor lainnya, Sabtu siang (12/7), menjadi bukti begitu seriusnya pemerintahan Yamin-Ananda mewujudkan komitmen menjaga kestabilan inflasi di Kota Seribu Sungai.

Wali Koya Yamin menuturkan inflasi merupakan salah satu indikator penting dalam pembangunan ekonomi suatu daerah. Ia lantas mengapresiasi kinerja dan kolaborasi TPID Kota Banjarmasin yang saat ini telah berhasil menurunkan persentase inflasi hingga di angka 1,98 persen.

“Kita harap High Level Meeting dan Capacity Building ini bisa jadi pelecut semangat dan kolaborasi kita untuk memastikan harga pangan maupun ketersediaan pasokan itu dapat selalu terakomodir,” ujarnya.

Pihaknya sendiri sangat mengapresiasi apresiasi kerja sama luar biasa seluruh stakeholder, baik Pemkot, TPID maupun pihak lain yang turut berperan aktif sehingga inflasi ini berhasil dievaluasi dan dikendalikan dengan sangat baik beberapa tahun terakhir

Merujuk data yang dilansir BPS Kota Banjarmasin yang mengacu pada basis Year-On-Year (YOY) per Juni 2025, angka inflasi kota Banjarmasin berada di 2,11% secara fluktuatif. Oleh karena itu, Wali Kota memberikan instruksi khusus agar kenaikan angka ini dapat terus ditekan dan dicegah semaksimal mungkin.

“Kita tahu angka inflasi kita itu pernah sangat tinggi di angka 6,98% pada tahun 2022 dan kita tidak ingin hal itu terulang,” tegas Yamin.

Lebih lanjut, ia membeberkan, meski keseluruhan angka inflasi kota Banjarmasin terbilang cukup stabil, masih terdapat komoditas pangan yang mengalami lonjakan harga luar biasa, Cabai Rawit salah satunya.

“Cabai rawit, cabai merah, ikan gabus dan ikan nila itu informasinya masih jadi penyumbang utama inflasi. Terutama cabai rawit yang bisa menyentuh Rp150 ribu per kilogram, ini tentu cukup memberatkan masyarakat,” tekannya.

Untuk itu, ujar Yamin, di samping penguatan Capacity Building, kunjungan studi tiru ke PPHPM kali ini dirasa penting untuk memperluas wawasan pihaknya dalam menyusun rencana strategis terhadap pengawasan dan pengendalian inflasi ke depan.

“Di sini lelang cabai dan sayur sangat berdaya. Makanya kita ajak SKPD untuk sekalian studi tiru, melihat cara kerja mereka siapa tahu ada yang dapat kita bawa, kita implementasi maupun kita kerjasamakan di Banjarmasin,”tandasnya.(Ridzky Husna).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!