PR Banjarmasin Tahun Depan,  Stunting Turun dan Tercapai ODF  

0
KOMPAK

Wali Kota Banjarmasin, H Ibnu Sina bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kota Banjarmasin, Hj Siti Wasilah serta jajaran SKPD Pemko Banjarmasin. (Foto-Diskominfotik Banjarmasin).

 

Meski termasuk kota yang berhasil menekan laju stunting, Banjarmasin terus fokus selalu dalam mendorong pencegahan dan penurunan kasus kurangnya asupan gizi sehingga pertumbuhan anak terganggu.

Berbagai upaya pun dilakukan secara serentak, termasuk memperluas titik penanganan yang semula 14 titik menjadi 22 titik, dengan menyasar 835 anak tengkes alias stunting.Hal lain adalah pencegahan sejak dini, termasuk sebelum seorang wanita memasuki masa kehamilan atau semenjak remaja.

Selain Stunting masalah krusiasl lainnya adalah mewujudkan Banjarmasin sebagai bebas buang air besar sembarangan (ODF).Hal ini dilakukan mengingat Banjarmasin melalui Pemerintah Kota Banjarmasin dan Forum Kota Sehat di Banjarmasin mendeklarasikan Open Defecation Free (ODF) atau Stop Buang Air Besar Sembarangan, beberapa saat lalu..

Demikian ini disampaikan langung Wali Kota Banjarmasin, H Ibnu Sina saat membuka Rakerkesda (Rapat Kerja Kesehatan Daerah) Banjarmasin, di Ballroom hotel Fugo Banjarmasin, Senin (11/12/23).

“Karena itu dalam Rakerkesda untuk merumuskan program tahun depan, yaitu penanganan lintas sektoral untuk mengatasi masalah Stunting dan upaya mencapai status bebas buang air besar sembarangan (ODF),” ungkap Ibnu Sina.

Mekipun termasuk salah satu kota yang sukses menangani kasus stunting, namun tidak membuat Pemerintah Banjarmasin jumawa. Kasus stunting tetap menjadi prioritas, terlebih Banjarmasin diharapkan dapat 22% ke 14% tahun depan.

“Kami telah berhasil menurunkan angka Stunting dari 27% ke 22%, dan sekarang menargetkan 14%. Fokus utama kami adalah pada penyelesaian masalah ini dengan pendekatan lintas sektoral,” ujar Ibnu Sina.

Hal penting lainnya menurut Ibnu Sina adalah pentingnya pelayanan kesehatan lainnya, terutama terkait dengan indikator kota sehat.Pihaknya berharap minimal 80% kelurahan mendeklarasikan diri bebas dari buang air besar sembarangan. Ini bukan hanya untuk mencapai standar kota sehat, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Eliminasi jamban di pinggir sungai juga menjadi perhatian utama. “Kita dapat bekerja sama dengan lintas sektor, terutama Dinas Kesehatan, Dinas PUPR, Dinas Perkim, dan Perumda Air Limbah. Konektivitas air limbah komunal diharapkan dapat mengubah perilaku masyarakat, menghilangkan kebiasaan buang air besar di sungai, dan meningkatkan tingkat kesehatan kota,” sambung Ibnu Sina.

Wali Kota Banjarmasin juga berharap dapat menurunkan angka kesakitan dan meningkatkan tingkat kesehatan kota secara signifikan. Rencana itu mencerminkan komitmen penuh untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan berkualitas bagi warga Banjarmasin.(Olpah Sari).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!