Bank Kalsel dan Tantangan Menjadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Banua
Sebuah bank daerah tidak boleh hanya dinilai dari seberapa besar laba yang dibukukan atau berapa besar dividen yang dibagikan kepada pemegang saham.
Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah seberapa jauh institusi tersebut mampu menggerakkan ekonomi masyarakat, memperluas akses pembiayaan, dan menjadi bagian dari solusi pembangunan daerah.
Dalam konteks itulah, peningkatan target dividen Bank Kalsel dari Rp56 miliar untuk tahun buku 2025 yang dibayarkan pada 2026 menjadi Rp61 miliar untuk tahun buku 2026 yang akan dibayarkan pada 2027 menjadi kabar positif bagi perekonomian Kalimantan Selatan.
Angka tersebut memang bukan sekadar catatan korporasi. Di balik peningkatan dividen terdapat pesan penting tentang kemampuan perusahaan menjaga kinerja, memperkuat bisnis, dan menciptakan nilai ekonomi bagi pemegang saham, termasuk Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.
Namun, tantangan terbesar Bank Kalsel ke depan bukan hanya bagaimana meningkatkan laba dan dividen. Tantangan yang jauh lebih strategis adalah bagaimana menjadikan Bank Kalsel sebagai mesin pertumbuhan ekonomi Banua.
Peran bank pembangunan daerah memiliki karakter yang berbeda dengan bank umum lainnya. Bank daerah memiliki mandat ekonomi yang lebih luas karena keberadaannya melekat dengan kebutuhan pembangunan wilayah.
Bank Kalsel tidak hanya dituntut sehat secara bisnis, tetapi juga harus mampu menjadi penghubung antara kebijakan pembangunan pemerintah daerah dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.
Dalam ekonomi modern, bank bukan sekadar tempat menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Bank merupakan penggerak sirkulasi ekonomi. Setiap kredit yang disalurkan kepada pelaku usaha memiliki potensi menciptakan produksi baru, membuka lapangan pekerjaan, dan meningkatkan daya beli masyarakat.
Karena itu, keberhasilan Bank Kalsel harus diukur dari dua sisi: kinerja korporasi dan dampak ekonomi.
Kredit Produktif Menjadi Kunci
Direktur Utama Bank Kalsel H. Fachrudin menyampaikan bahwa kontribusi terbesar pendapatan bank masih berasal dari pendapatan bunga kredit, baik dari debitur kredit kecil maupun pembiayaan untuk pengembangan usaha.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa bisnis utama perbankan tetap bertumpu pada kemampuan menjalankan fungsi intermediasi secara sehat.
Ke depan, tantangan Bank Kalsel bukan hanya meningkatkan jumlah kredit, tetapi memastikan pembiayaan tersebut memberikan efek berganda bagi ekonomi daerah.
Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) harus menjadi perhatian utama. UMKM bukan hanya kelompok usaha kecil, tetapi fondasi ekonomi masyarakat.
Banyak pelaku UMKM di Kalimantan Selatan memiliki potensi besar di sektor perdagangan, kuliner, pertanian, perikanan, industri kreatif, hingga ekonomi berbasis pariwisata. Kendala terbesar mereka sering kali bukan ketiadaan peluang, melainkan keterbatasan akses modal, pendampingan usaha, dan kemampuan masuk ke pasar yang lebih luas.
Pembiayaan tidak cukup berhenti pada pemberian kredit. Bank harus ikut membangun ekosistem usaha melalui pendampingan, literasi keuangan, digitalisasi transaksi, hingga kolaborasi dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi.
Tantangan Digitalisasi dan Kompetisi Industri Keuangan
Industri perbankan saat ini bergerak sangat cepat. Perubahan perilaku masyarakat menuju layanan digital membuat bank harus beradaptasi.
Generasi muda, pelaku usaha baru, dan masyarakat perkotaan semakin membutuhkan layanan keuangan yang cepat, mudah, dan berbasis teknologi.
Transformasi digital menjadi agenda yang tidak bisa ditunda. Bank Kalsel perlu terus memperkuat layanan digital agar mampu menjangkau masyarakat lebih luas, termasuk pelaku usaha di wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses layanan keuangan.
Digitalisasi bukan hanya soal aplikasi atau teknologi. Lebih jauh, digitalisasi adalah bagaimana bank mampu memahami kebutuhan nasabah dan memberikan solusi keuangan yang lebih efisien.
Bank daerah yang mampu menggabungkan kekuatan lokal dengan inovasi digital akan memiliki posisi kompetitif yang kuat.
Bagi Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, peningkatan dividen Bank Kalsel tentu memiliki arti penting. Tambahan kontribusi dari perusahaan daerah dapat memperkuat kapasitas fiskal pemerintah dalam mendukung berbagai program pembangunan.
Namun, nilai terbesar Bank Kalsel tidak hanya terletak pada besaran dividen yang disetorkan setiap tahun.
Nilai strategis Bank Kalsel terletak pada kemampuannya menciptakan ekonomi yang lebih produktif.
Jika pembiayaan bank mampu melahirkan lebih banyak pengusaha baru, memperkuat UMKM lokal, mendukung sektor unggulan daerah, dan membuka lapangan pekerjaan, maka manfaatnya jauh lebih besar dibandingkan sekadar angka keuntungan.
Kenaikan target dividen menjadi Rp61 miliar adalah sinyal positif. Tetapi perjalanan yang lebih penting adalah bagaimana Bank Kalsel mampu memperbesar manfaat ekonomi dari setiap aktivitas bisnisnya.
Bank Kalsel tidak hanya harus menjadi bank milik daerah. Lebih dari itu, Bank Kalsel harus menjadi bank yang dirasakan manfaatnya oleh daerah.
Sebab ukuran keberhasilan sebuah bank pembangunan bukan hanya seberapa besar keuntungan yang dihasilkan, melainkan seberapa besar perubahan ekonomi yang mampu diciptakan bagi masyarakat yang dilayaninya.(Tim Redaksi).
