Menjaga Harga dari Lapak Sementara

0
SEMBAKO

Gerakan Pangan Murah (GPM) dan bazaar murah kembali menjadi andalan pemerintah daerah setiap menjelang hari besar keagamaan.

Pola ini berulang ketika permintaan meningkat, harga terdorong naik, lalu pemerintah hadir melalui intervensi pasar jangka pendek. Di Kalimantan Selatan, langkah ini kembali digelar menjelang Idulfitri 1447 Hijriah.

Secara kasat mata, strategi ini efektif. Harga bahan pokok yang dijual di bawah pasar memberi ruang napas bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Dalam jangka pendek, GPM dan bazaar murah mampu meredam ekspektasi kenaikan harga dan menahan gejolak inflasi, khususnya pada komoditas pangan bergejolak seperti telur, ikan, dan beras.

Intervensi ini juga berfungsi sebagai sinyal kuat bahwa pemerintah hadir dan tidak membiarkan mekanisme pasar bekerja tanpa kendali.

Namun, efektivitas tersebut memiliki batas. GPM pada dasarnya adalah “shock absorber” atau peredam sesaat, bukan solusi struktural. Dampaknya terhadap inflasi bersifat temporer dan terbatas pada lokasi serta waktu pelaksanaan.

Begitu kegiatan berakhir, harga kembali mengikuti dinamika pasokan dan distribusi yang sering kali belum sepenuhnya efisien.

Persoalan utamanya adalah disini. Inflasi pangan di daerah bukan semata soal lonjakan permintaan musiman, melainkan juga dipengaruhi oleh rantai distribusi yang panjang, ketergantungan pasokan dari luar daerah, hingga keterbatasan infrastruktur logistik.

Tanpa pembenahan di sisi hulu dan distribusi, bazaar murah hanya menjadi rutinitas tahunan yang berulang tanpa mengubah akar masalah.

Meski demikian, bukan berarti GPM kehilangan relevansi. Program ini tetap penting sebagai bagian dari strategi pengendalian inflasi jangka pendek, terutama dalam kerangka menjaga daya beli dan stabilitas sosial dan sangat kita apresiasi.

Hanya saja catatan lainnya adalah perlu diperkuat kesinambungannya dengan kebijakan jangka menengah dan panjang.

Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa intervensi pasar seperti GPM terhubung dengan upaya peningkatan produksi lokal, penguatan cadangan pangan, serta efisiensi distribusi.

Digitalisasi transaksi melalui QRIS, misalnya, bisa diperluas tidak hanya sebagai gimmick edukasi, tetapi juga untuk membangun ekosistem perdagangan yang lebih transparan dan efisien.

Ke depan, ukuran keberhasilan bukan lagi seberapa sering bazaar murah digelar, melainkan seberapa kecil ketergantungan terhadapnya. Jika harga pangan tetap stabil tanpa intervensi besar setiap musim hari raya, di situlah tanda bahwa fondasi ekonomi daerah mulai kuat.

Dengan kata lain, GPM adalah langkah yang tepat,tetapi belum cukup. Ia harus menjadi jembatan menuju kebijakan pangan yang lebih berkelanjutan, bukan sekadar rutinitas musiman yang menenangkan sesaat.(Tim Redaksi).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!