Mengapa Malam Tahun Baru Identik dengan Bakar Jagung
Merayakan pergantian tahun baru tetap bertahan hingga generasi sekarang adalah bakar jagung. (Foto - Ridzky Husna).
Setiap pergantian tahun, satu pemandangan nyaris selalu sama di banyak sudut kota Indonesia. Asap tipis mengepul dari halaman rumah, tepi jalan, pantai, hingga alun alun. Di atas bara api, jagung kuning berjejer, dibolak balik perlahan sambil dioles mentega atau sambal. Bakar jagung telah menjadi ikon tak tertulis malam tahun baru.
Tradisi ini tidak lahir dari satu peristiwa besar atau tokoh tertentu. Namun itu tumbuh perlahan, organik, dari pertemuan antara ketersediaan bahan pangan, kebiasaan berkumpul, dan makna simbolik pergantian waktu.
Secara historis, jagung merupakan salah satu pangan rakyat yang mudah didapat di banyak wilayah Indonesia, terutama di Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan sebagian Kalimantan. Sejak masa kolonial hingga pascakemerdekaan, jagung kerap menjadi tanaman sela dan pangan alternatif selain padi. Murah, mudah diolah, dan bisa dinikmati bersama sama.
Dalam konteks sosial, malam tahun baru sejak era 1970 an mulai dipersepsikan sebagai momen kebersamaan, terutama di perkotaan. Tidak semua orang merayakan dengan pesta besar atau pergi ke hotel. Banyak keluarga dan kelompok muda memilih berkumpul sederhana.
Di sinilah bakar jagung menemukan momentumnya. Ia murah, hangat, dan melibatkan partisipasi semua orang. Ada yang menyalakan api, ada yang membalik jagung, ada yang menyiapkan bumbu. Prosesnya sama pentingnya dengan hasilnya.
Tradisi bakar jagung juga memiliki makna simbolik. Jagung yang mentah kemudian matang di atas api kerap dimaknai sebagai harapan. Dari yang sederhana menuju lebih baik. Dari yang belum sempurna menuju kematangan. Api menjadi simbol semangat, sementara makan bersama melambangkan kebersamaan menatap tahun baru.
Siapa yang mempopulerkan bakar jagung sebagai tradisi tahun baru tidak bisa ditunjuk pada satu tokoh atau kota. Ia menyebar melalui kebiasaan kolektif, diperkuat oleh media massa, televisi, dan kemudian media sosial.
Sejak era 1990 an, liputan malam tahun baru di televisi nasional kerap menampilkan warga membakar jagung di pinggir jalan, pantai, dan kawasan wisata. Visual ini berulang dari tahun ke tahun, membentuk memori kolektif.

Soal kota atau daerah dengan tradisi bakar jagung paling banyak, hingga kini tidak terdapat data statistik resmi yang mencatat jumlah atau intensitasnya. Tidak ada lembaga yang secara khusus mengukur konsumsi jagung bakar pada malam tahun baru. Namun secara kualitatif, tradisi ini sangat kuat di kota kota dengan ruang publik terbuka dan budaya komunal yang tinggi.
Wilayah seperti Yogyakarta, Bandung, Malang, Semarang, Manado, Kupang, Ambon, serta kota kota pesisir di Sulawesi dan Nusa Tenggara dikenal luas dengan tradisi bakar jagung di malam pergantian tahun.
Di daerah pesisir, pantai menjadi ruang perayaan utama. Sementara di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, tradisi ini hidup di kampung kampung kota, halaman rumah, dan lingkungan perumahan.
Di Kalimantan Selatan sendiri, bakar jagung kerap hadir dalam skala keluarga dan komunitas kecil. Tengoklah dulu ramai di bantaran sungai, halaman rumah, atau kawasan pinggiran kota seperti Banjarmasin maupun di Banua Anam, tradisi ini menyatu dengan budaya berkumpul sederhana tanpa kemewahan.
Yang membuat bakar jagung bertahan hingga kini adalah kesederhanaannya. Di tengah perubahan gaya hidup, pesta kembang api, konser musik, dan perayaan modern, bakar jagung menawarkan kehangatan yang tidak tergantikan. Karena ia tidak menuntut biaya besar, tidak eksklusif, dan tidak mengenal kelas sosial.
Di atas bara api dan jagung yang dibakar perlahan, orang orang berbagi cerita tentang tahun yang telah lewat dan harapan untuk tahun yang akan datang. Mungkin di situlah rahasianya. Bakar jagung bukan sekadar makanan, melainkan ritual kecil yang memberi rasa pulang, bahkan di tengah hiruk pikuk pergantian zaman. Selamat Tahun Baru ! (Ridzky Husna).

