Sejarah Tour Guide, Dari Jejak Kuno Hingga Profesi Modern

0
BOS MUTIA

Foto Ilustrasi - Wisatawan Mancanegara saat mengunjungi Kota Seribu Sungai Banjarmasin. (Foto-Tim Redaksi).

Oleh : Muhammad Risanta SE MM

Siapa itu Tour Guide?

Tour Guide atau pemandu wisata adalah figur kunci dalam industri pariwisata yang tugasnya tidak sekadar menunjukkan arah, tetapi menjadi jembatan budaya dan penutur cerita kepada wisatawan.

Seorang tour guide harus bisa menginterpretasikan warisan budaya dan alam, menjelaskan konteks sejarah, adat istiadat, dan nuansa lokal suatu tempat, dalam bahasa yang dipahami oleh pengunjungnya. Mereka menjadi sahabat perjalanan, guru dadakan, sekaligus duta budaya yang memastikan pengalaman wisata menjadi edukatif, aman, dan tak terlupakan.

Sejarah Awal Tour Guide di Dunia

Peran manusia yang membantu pelancong sudah berakar jauh sebelum pariwisata modern lahir. Dalam sejarah kuno, sudah ada interpreters dan pemandu lokal yang membantu wisatawan memahami situs seperti piramida di Mesir atau kompleks kuil di Yunani dan Roma, sebagaimana dicatat oleh penulis klasik seperti Herodotus dalam catatan perjalanan mereka (Sumber Doing History In Public).

 

Para Tour Guide Kalsel yang tergabung dalam PHPI Kalsel saat mengawal perjalanan rombongan wisatawan ke Pasar Terapung Lok Baintan. (Foto – Reifa HPI Kalsel).

Namun, profesi tour guide sebagaimana kita kenal sekarang baru mulai terbentuk seiring berkembangnya pariwisata terorganisir pada abad ke-19. Nama yang tak lepas dari narasi ini adalah Thomas Cook, seorang pionir asal Inggris yang sering disebut Bapak Pariwisata Modern.

Pada tahun 1841, Cook mengorganisir perjalanan kereta api komersial pertama di dunia yang terstruktur, lengkap dengan rencana perjalanan dan pendamping yang mengatur perjalanan bagi penumpang yang ikut. Meskipun pada awalnya fokusnya adalah mengangkut orang dari satu titik ke titik lain, model ini kemudian mengembangkan konsep pemanduan wisata yang profesional.(Sumber ReseachGate+1).

Selain itu, dalam tradisi Barat berkembang pula buku-buku panduan perjalanan seperti karya John Murray dan Karl Baedeker sejak awal abad ke-19, yang membantu wisatawan dengan informasi destinasi dan praktik perjalanan — suatu wujud interpretasi yang kemudian disinergikan oleh tour guide di lapangan.

Evolusi Profesi Tour Guide

Seiring dengan globalisasi dan kemajuan transportasi, pariwisata berkembang pesat pada abad ke-20. Profesi pemandu wisata menjadi lebih formal, terstruktur, dan diatur oleh standar profesional di banyak negara. Organisasi seperti World Federation of Tourist Guide Associations (WFTGA) didirikan pada 1985 sebagai representasi global profesi ini, sekaligus menjadi mediator standar sertifikasi dan praktik pemanduan di lebih dari 100 negara.

Perubahan itu juga mencakup pembinaan kompetensi, etika profesi, dan tanggung jawab pemandu wisata dalam menyampaikan narasi budaya yang akurat, menghormati komunitas setempat, serta menjaga keselamatan wisatawan.

Hal ini menjadikan profesi tour guide bukan sekadar pekerjaan paruh waktu, tetapi panggilan profesional yang memadukan ilmu sejarah, antropologi, dan komunikasi.

 

Wisatawan Mancanegara menjajal sensasi River Tubing di Loksado dipandu Tour Guide “Bebeh”.

Kehadiran Tour Guide di Indonesia

Dilansir dari Dpchpimabar, Di Indonesia, kehadiran pemandu wisata baru mengambil bentuk yang lebih formal pada era perkembangan pariwisata setelah masa kemerdekaan. Pada tahun 1983, terbentuk organisasi nasional yang dikenal sebagai Himpunan Duta Wisata Indonesia (HDWI), yang kemudian berkembang menjadi Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) , badan resmi yang menaungi para pemandu wisata profesional di seluruh nusantara.

HPI berperan sangat strategis dalam standarisasi kompetensi, kode etik, dan pelatihan pramuwisata, serta memberikan wadah advokasi bagi anggota dalam memperjuangkan hak, profesionalisme, dan kontribusi terhadap pembangunan pariwisata nasional.

Organisasi ini menjadi jembatan antara pemandu wisata lokal dengan pemerintah, industri pariwisata, bahkan komunitas global dalam pertukaran standar dan praktik terbaik.

Seiring meningkatnya jumlah wisatawan domestik dan internasional, profesi tour guide di Indonesia tumbuh signifikan. Pemandu wisata kini tidak hanya aktif di pusat-pusat pariwisata seperti Bali, Yogyakarta, atau Jakarta, tetapi juga di destinasi heritage, alam, hingga komunitas lokal.

Kompetensi pemandu yang dimulai dari kemampuan bahasa asing, penguasaan sejarah dan budaya lokal, hingga keterampilan storytelling tentu menjadi kunci dalam menciptakan pengalaman wisata yang berkualitas.

Perjalanan Panjang Tour Guide di Kalimantan Selatan

Kalimantan Selatan (Kalsel) sebagai salah satu daerah yang kaya akan sejarah dan keanekaragaman budaya juga menyaksikan perkembangan profesi tour guide yang semakin kuat. Sejak beberapa tahun belakangan, pelatihan storytelling dan pemandu wisata terus digalakkan oleh pemerintah provinsi untuk meningkatkan kapasitas lokal, khususnya di kawasan-kawasan strategis seperti Geopark Meratus dan destinasi warisan budaya lainnya.

Program-program semacam ini bertujuan tidak hanya untuk memberi informasi yang akurat kepada wisatawan, tetapi juga untuk menguatkan kapasitas masyarakat setempat sebagai penyampai cerita sejarah dan nilai-nilai budaya, serta mendorong pembangunan pariwisata yang berkelanjutan. Pelatihan semacam storytelling menjadi bagian penting dalam kurikulum pemandu wisata modern (Sumber Diskominfo Kalsel).

Walaupun Kalsel belum memiliki nama-nama tokoh tour guide seterkenal di pusat-pusat pariwisata nasional, komunitas pemandu wisata lokal di Kalimantan Selatan menjadi pelopor penting dalam mempraktikkan interpretasi budaya Banjar, sejarah kerajaan, tradisi lokal, dan narasi alam yang autentik kepada pengunjung. Mereka sering bekerja sama dengan pokdarwis (kelompok sadar wisata), akademisi lokal, serta dinas pariwisata dalam desain rute edukatif yang menarik.

Sebut saja Bebez, Atailah (Alexa), Johan Loksado, Camang, Reifa,Bebeh, Mulkani,Arifin, Antonius Panggabean, Ismed, Nisa, Nurul, Guntur,Syamsudin serta almarhum Robi Trio dan Aloysius Jono, adalah nama-nama kerap menghiasi perjalanan wisata Banua.Mereka adalah sebagian dari ratusan pemandu wisata yang mendedikasi dirinya untuk profesi ini.

Dalam kegiatan seperti Jelajah Cagar Budaya yang melibatkan generasi muda dengan narasumber lokal menjadi bukti nyata bahwa pemandu wisata kini tidak semata membimbing turis, tetapi juga mendidik masyarakat sendiri untuk mencintai warisan leluhur.

Profesi Pemandu Wisata sebagai Penjaga Narasi Budaya

Pemandu wisata itu dari akar sejarah kuno hingga profesi modern adalah arsitek pengalaman yang menghubungkan manusia dengan nilai sejarah, budaya, dan identitas suatu tempat.

Di seluruh dunia, profesi ini telah berevolusi menjadi elemen sentral dalam industri pariwisata global. Di Indonesia, melalui organisasi seperti HPI, pemandu wisata diposisikan sebagai warga negara yang berdedikasi dalam membumikan narasi bangsa kepada setiap tamu yang datang.

Sementara di Kalimantan Selatan, pemandu wisata lokal terus memperkuat narasi warisan budaya mereka, menunjukkan bahwa pariwisata bukan sekadar ekonomi semata, tetapi alat pelestarian budaya dan jembatan dialog antarbudaya.

Sebagai jurnalis akademisi dan penggiat pariwisata, saya melihat masa depan tour guide sebagai profesi yang semakin strategis untuk menjawab tantangan keberlanjutan, pendidikan lintas budaya, dan pengalaman wisata yang bermakna bagi setiap manusia yang suka menjelajah.

Penulis adalah seorang Jurnalis Senior – Akademisi dan Penggiat Pariwisata Nasional

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!