Indahnya Merawat Budaya Banjar di Festival Manopeng Banyiur

0
MANOPENG

Wali Kota Banjarmasin mengikuti salah satu tradisi Malabuh yang merupakan salah satu persiapan Festival Manopeng Banyiur 2025.(Foto-Diskominfotik Banjarmasin).

Budaya Banjar itu indah dan sarat makna.Banyak tradisi menghiasi perjalanan masyarakat Banjar, dengan adat budaya yang masih kental. Keindahan budaya Banjar terlihat dari berbagai aspek, seperti seni, tradisi, pakaian adat, dan kuliner. 

Salah satu yang masih terjaga adalah Manopeng sebuah tradisi Manopeng adalah tradisi turun temurun yang telah berlangsung lebih dari 150 tahun. Tradisi ini berasal dari keluarga Juriat Kakek Samudra atau Kakek Ara di Desa Banyiur Luar. 

Konon menurut cerita Manopeng adalah acara keluarga yang bertujuan untuk silaturahmi, namun seiring waktu, acara ini berkembang menjadi pertunjukan untuk umum sebagai bagian dan juga masuk dalam agenda  dari perayaan Hari Jadi Kota Banjarmasin.

Festival Manopeng Banyiur adalah festival budaya tahunan yang diadakan di Kelurahan Basirih, Kecamatan Banjarmasin Barat, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Festival ini menampilkan tarian mistis Manopeng, yang diiringi dengan ritual dan sesaji.

Tarian Manopeng diyakini memiliki kekuatan magis dan melibatkan roh halus, serta menjadi sarana untuk menjaga keharmonisan, membersihkan kampung dari energi negatif, dan mempererat silaturahmi antar keturunan.

Dalam ritual sebelum Manopeng juga melibatkan berbagai persiapan, seperti membuat sesaji 41 macam wadai (kue tradisional Banjar), mawajik, malabuh, dan mangiyau.

Tujuan Festival Manopeng Banyiur sebagai wadah pelestarian tradisi budaya Banjar yang kaya dan unik.Di satu sisi ia menjaga harmoni dan kebersamaan dalam masyarakat, serta membersihkan kampung dari energi negatif.

 

Wali Kota Banjarmasin, H. Muhammad Yamin HR membuka resmi Festival Manopeng Banyiur Liur, Basirih, Jumat (11/07/2025). (Foto-Diskominfotik Banjarmasin).

Festival ini intinya juga Mempererat tali silaturahmi antar keluarga dan keturunan. Dan bagian terpenting menjadi salah satu daya tarik wisata budaya kota sarat sejarah, Banjarmasin.

Festival yang merupaka  warisan budaya takbenda dibuka resmi Wali Kota Banjarmasin, H. Muhammad Yamin HR, Jumat (11/07/2025). Festival Manopeng yang akan berlangsung dari selama 3 hari (11 – 13 Juli 2025) di Jalan Banyiur Luar, Basirih, Banjarmasin.

Wali Kota Yamin sendiri mengapresiasi warga Banyiur Luar yang tetap setia menjaga dan merawat serta melestarikan budaya Banjar. Dia menegaskan Manopeng Banyiur bukan sekadar pertunjukan seni dan budaya, melainkan simbol dari peradaban panjang masyarakat Banjar yang diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun.

“Ini adalah sejarah yang hidup. Di tengah era digital seperti sekarang, kita patut bangga karena masih memiliki akar budaya yang kuat dan menjadi ciri khas daerah kita,” ujar Yamin.

Festival itu digelar sebagai agenda tahunan keluarga besar Dzuriyat Haji Ujang dan masyarakat Kampung Banyiur, yang selalu dilaksanakan setiap malam Senin di antara bulan Muharam. Tradisi tersebut tak hanya dijadikan sebagai bentuk ungkapan rasa syukur atas hasil panen di masa lampau, namun juga menjadi ruang silaturahmi dan pelestarian budaya lokal.

Wali Kota Yamin secara khusus menyoroti peran penting tokoh adat dan pelaku budaya di Kampung Banyiur, terutama Ferdi Irawan – generasi muda penerus tradisi topeng, gamelan, hingga tari Jepin.

Ferdi Irawan merupakan penerima Anugerah Kebudayaan dari Kemendikbud RI tahun 2020, dan kini menjadi sosok kunci dalam menjaga kelestarian pusaka budaya seperti topeng tua berusia 300 tahun, keris, rabab, dan berbagai peninggalan lain yang menjadi identitas kuat Banyiur sebagai pusat kebudayaan sejak zaman Datu Mahbud (tokoh masyarakat Banjar dahulu, red).

“Ferdi Irawan adalah contoh nyata bagaimana generasi muda bisa menjadi pelestari warisan budaya. Kita perlu dukung lebih banyak Ferdi-Ferdi lainnya agar warisan ini tidak hanya dikenang, tetapi juga terus hidup dan berkembang,” sebutnya.

Lebih lanjut, Wali Kota mengajak masyarakat Banjarmasin dan wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara untuk hadir meramaikan berbagai rangkaian kegiatan Festival Manopeng, seperti pagelaran Japin Carita, Bajapanan sambil menggendong anak, dan ritual budaya khas lainnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih atas aspirasi masyarakat Kampung Banyiur terkait pembangunan dermaga sebagai jalur bagi jukung-jukung serta tempat latihan seni dan budaya.

“Semoga Kampung Banyiur dapat terus menjadi inspirasi, tidak hanya sebagai penjaga budaya, tetapi juga sebagai wajah Banjarmasin yang sarat makna dan jati diri,” harapnya.

Festival Manopeng Banyiur kini tak hanya menjadi warisan budaya lokal dan bentuk penghormatan kepada leluhur, namun juga sebagai ruang strategis untuk promosi pariwisata daerah, penguatan identitas budaya, serta regenerasi pelaku seni yang berakar dari tradisi luhur Banjar.(Ridzky Husna).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!