Titiek Puspa, Inspirasi Perempuan Indonesia
Foto - Instagram Official Titiek Puspa.
Oleh Made Ludya Edwi Shanty
You are a woman of many talents and skills. You can do anything you set your mind to, and you always excel at what you do. You are an inspiration to me and many others.
Indonesia terhenyak dan bersedih ketika sebuah kabar duka datang dari Jakarta di bulan Syawal 1446 H. Setelah aktor Ray Sahetapy, kini negeri harus kehilangan satu legenda penyanyi dan artis serba bisa, Titiek Puspa.
Dunia hiburan tanah air bahkan kita semua akan merasa kehilangan sosok yang menginspirasi ini. Artis legendaris yang seusia orang tua kita, menghadap Sang Khalik, Kamis, 10 April 2025 pukul 16.25 WIB.
Kepergian salah satu perempuan terbaik Indonesia, memang mengejutkan. Karena minggu ketiga Maret 2025 lalu, dirinya sempat mengisi sebuah program acara Komedi Lapor Pak Trans7, di Jakarta.

Hal ini seperti yang dituturkan anak pertama Titiek Puspa, mba Petty Tunjung Sari kepada sejumlah wartawan di Jakarta. Sang ibunda pun sempat menyelesaikan sejumlah segmen sebelum pingsan dan diduga mengalami pendarahan di otak kiri. Eyang Titiek Puspa pun dilarikan ke rumah sakit dan menjalani perawatan secara intensif. Namun Kamis kemarin menghembuskan nafas terakhirnya.
Bagi segenap bangsa Indonesia, sangat kehilangan sekali. Titiek Puspa adalah satu diantara ribuan aset anak bangsa negeri ini yang berprestasi. Perempuan kelahiran Tanjung, Kalimantan Selatan, 1 Nopember 1937, memberikan warna indah prestasi perempuan di bidang seni dan budaya.Karena sepanjang hidupnya mendedikasi diri untuk menghibur masyarakat Indonesia dan dunia lewat karya-karya seni terbaiknya.

Bernama asli Sudarwati, kemudian diganti menjadi Kadarwati hingga Sumarti, karena semasa kecil sakit-sakitan.Maklum orang zaman dulu kalau nama tidak sesuai dan kondisi sakit-sakitan, maka biasannya sang anak diganti namanya.
Dibandingkan nama aslinya, Titiek Puspa adalah nama panggung yang membuatnya kian populer sepanjang masa.Titiek sendiri adalah nama panggilan sehari-harinya. Dibagian belakang nama Titiek dia mencantumkan nama Puspa.Konon sebagai bentuk penghormatan bagi ayahnya yang bernama Tugeno Puspowidjojo.
Dari berbagai literatur, setelah Kalsel, dia diboyong orangtuanya ke Semarang dalam usia yang belum genap tiga bulan. Justru di kota yang terkenal dengan sebutan Little Netherland atau Kota Atlas, Titiek Puspa mulai mencintai dunia musik dan sangat mengidolakan aktor serba bisa , Bing Slamet (orang tua Adi Bing Slamet dan Iyut Bing Slamet).
Karier sebagai penyanyi dimulai sejak remaja seperti yang dilansir Detik.Com. Tahun 1954, Titiek Puspa remaja ini sudah menjadi Juara II dalam acara yang beken pada zamannya “ Bintang Radio RRI Semarang “untuk kategori hiburan. Kemenangan inilah yang mengantarnya menjadi penyanyi terkenal.
Jalan karirnya pun terbuka kalau tampil perdana dengan Orkes Simfoni Jakarta yang dipimpin oleh Sjaiful Bahri. Di malam penganugerahan, ia membawakan lagu ‘Chandra Buana’ karya Ismail Marzuki.Ini pula yang mengantarnya menjadi penyanyi tetap orkes tersebut.

“Ibu Titiek Puspa ini adalah kebanggaan Banua dan Indonesia.Karena beliau lahir di Banua kita dan semasa hidup selalu memberikan spirit bagi anak muda di Kalsel. Setidaknya kita mesti memberikan penghormatan terbaik untuk Ibu Titiek Puspa, yang membanggakan kita semua,” tutur sahabat saya Syahrianto, Jurnalis Radio Elshinta Jakarta.
Sebagai generasi jauh di masa beliau, kami sangat mengapresiasi karya-karya Titiek Puspa tak lekang di makan zaman. Sebut saja album Si Hitam dan Pita yang berisi 12 lagu. Kala kami masih kecil, abah sering memutar kaset lagu-lagu karya almarhumah seperti Tinggalkan, Aku dan Asmara. Kalau lagu yang ikonik Apa Apanya Dong yang dipopulerkan Iis Dahlia, sangat populer ketika kami masih sekolah dasar.
“Lagu Bing itu sering dinyanyikan almarhum abah kami, pas sidin main band. Kadang ketika memetik gitar mengajari kami bermain gitar, lagu Bing menjadi salah satu lagu favorit,” kenang Risanta, salah satu Jurnalis Senior CNN Indonesia, yang merupakan sahabat kami di organisasi kepariwisataan.
Kami hanya bisa berterimakasih kepada Titiek Puspa atas perjuangan dan dedikasinya untuk negeri ini.Terlebih menginspirasi bagi perempuan Indonesia, untuk berbuat berkarya dan memberi manfaat sesuai bidang yang kita tekuni.
Selamat jalan Bunda dan Eyang, Titiek Puspa…karyamu abadi di jiwa kami.

